Waiting
Kata orang menunggu itu membosankan, menunggu itu
menyebalkan,menunggu itu menyakitkan. Dan itu betul,menunggu kamu yang malah
sibuk dengan dunia mu itu membosankan.Kamu yang hanya hadir hanya saat kamu
butuh,dan bukan saat aku butuh itu menyebalkan.Menunggu kamu yang tak pernah
melihat aku yang nyatanya terlihat itu menyakitkan. Entah apa yang membuat hati
ku tak mampu beranjak sedikit pun dari kamu dan pesonamu. Dan setiap aku
mencoba untuk terus bertahan menunggumu perasaan ini selalu menguak. Sakit yang
teramat dalam.
“Hei,Li” sapa Andin sahabatku. Aku cuma tersenyum menanggapinya.
“Hei,Li” sapa Andin sahabatku. Aku cuma tersenyum menanggapinya.
“Kenapa? Ada masalah sama Gentar lagi?” tanya Andin
bertubi-tubi. Aku hanya mengangguk lemah.
“Dia kenapa?”tanya Andin mendudukan dirinya di sebelah
kananku.
“Dia sama Tania lagi pacaran di taman” jawab ku
lemah. Andin mengelengkan kepalanya,entah apa maksud dari gerakan kepalanya
itu.
“Please,honey. Lo liat diri lo,lo itu
kece,cantik,imut,unyu,pinter,multi talent lagi. So lo pasti bisa dapetin cowok
yang lebih dari Gentar-Gentar itu” jelas Andin sedikit emosi.
“Tapi Di lo tau gue udah suka sama dia dari kelas 6 SD
dan sekarang kita udah kuliah semester 6. So,lo tau kan udah berapa lama gue
nunggu dia,dan gue nggak bisa berhenti sekarang” ujarku panjang lebar.
“Dan selama 9 tahun ini lo tau udah berapa ratus cewek
yang dia pacarin dan udah berapa ribu cowok yang lo tolak” balas Andin sedikit
berteriak“Please Alin it’s time to Move
on Honey” sambungnya lagi.
“I will try”
jawab ku pasrah.
***
Aku kembali melirik Gentar yang duduk di samping ku. Kesal juga harus mengajari bocah tengik ini. Dua jam aku menulis dan menjelaskan berbagai teori dan rumus akutansi yang jujur saja membuat kepalaku pusing.
***
Aku kembali melirik Gentar yang duduk di samping ku. Kesal juga harus mengajari bocah tengik ini. Dua jam aku menulis dan menjelaskan berbagai teori dan rumus akutansi yang jujur saja membuat kepalaku pusing.
“Li,gimana sih gue nggak ngerti?” tanya Gentar
mengguncang lengan kiri ku yang ku gunakan menopang dagu.
“Udah ah gue bete ngajarin lo nggak ngerti-ngerti
gini. Minta ajarin Tania aja sana” jawabku sinis. Ia tampak menekuk wajahnya,
aku terkekeh dalam amarahku.
“Li lo kenapa bete gini sih,si Tania kan anak seni mana
ngerti urusan akutansi” ujarnya dengan nada manja yang di buat-buat.
“Bodo,gue males ngajarin lo. Bikin nyesek aja” ujar ku
menarik tas selempang pink pucat yang ada di depan Gentar lalu berusaha
meninggalkan meja kantin berwarnah putih itu. Tapi belum lagi aku berhasil
menggantungkan tas itu di bahu ku tangan kekar Gentar sudah menahan tangan
mungil ku. Ahhh,shit matanya lagi-lagi menahanku,mata yang membuat ku melayang
tiap kali lingkaran kecoklatan itu menembus retina mata ku. Penghipnotis jitu.
“Li,please” bisiknya dengan mata berbinar indah. Dan
aku mengangguk, terhipnotis.
****
“Dasar bocah tengik,Raja PHP,nyesek maker,ahh dasar nyebelin” upat ku bertubi-tubi sambil memaki sebuah figura berisi foto empat orang yang mengenakan pakaian putih abu-abunya. Dua jam lalu pria di foto ini memintaku untuk mengajarinya materi akutansi yang membuat kepalaku di aduk dengan beribu angka yang memuakan padahal ia tahu betul bahwa aku Alina Andromeda Amarta tercatat sebagai mahasiswi jurusan Sastra Prancis,S.A.S.T.R.A P.R.A.N.C.I.S, catat itu. Dan tiga menit lalu perempuan berwajah manis dengan rambut ikal di foto ini datang ke rumah ku membawa sebuah undangan berwarna ungu yang ternyata adalah undangan pertunangannya bersama Gentar. Shit, 9 tahun aku menunggu dan berakhir mengenaskan seperti ini. Demi couple Adam dan Hawa, Romeo dan Juliet,Qais dan Laila,Ivan dan Via,aku takkan pernah rela melepaskan Gentar. Pangeran yang aku harapkan cintanya selam bertahun-tahun. Pria yang aku biarkan menjadi penguasa hatiku, menjadi gaya gravitasi hidupku, menjadi pengendali tiap langkah ku, sumpah demi apa pun aku tak rela ia bersama Tania. Aku meraih benda putih yang tergeletak di sofa yang aku yakini sebagai handphone ku, lalu mulai mengerakan jari-jari mungil ku untuk mengetik digit demi digit angka yang sudah ku hapal di luar kepala sejak bertahun-tahun lalu.
****
“Dasar bocah tengik,Raja PHP,nyesek maker,ahh dasar nyebelin” upat ku bertubi-tubi sambil memaki sebuah figura berisi foto empat orang yang mengenakan pakaian putih abu-abunya. Dua jam lalu pria di foto ini memintaku untuk mengajarinya materi akutansi yang membuat kepalaku di aduk dengan beribu angka yang memuakan padahal ia tahu betul bahwa aku Alina Andromeda Amarta tercatat sebagai mahasiswi jurusan Sastra Prancis,S.A.S.T.R.A P.R.A.N.C.I.S, catat itu. Dan tiga menit lalu perempuan berwajah manis dengan rambut ikal di foto ini datang ke rumah ku membawa sebuah undangan berwarna ungu yang ternyata adalah undangan pertunangannya bersama Gentar. Shit, 9 tahun aku menunggu dan berakhir mengenaskan seperti ini. Demi couple Adam dan Hawa, Romeo dan Juliet,Qais dan Laila,Ivan dan Via,aku takkan pernah rela melepaskan Gentar. Pangeran yang aku harapkan cintanya selam bertahun-tahun. Pria yang aku biarkan menjadi penguasa hatiku, menjadi gaya gravitasi hidupku, menjadi pengendali tiap langkah ku, sumpah demi apa pun aku tak rela ia bersama Tania. Aku meraih benda putih yang tergeletak di sofa yang aku yakini sebagai handphone ku, lalu mulai mengerakan jari-jari mungil ku untuk mengetik digit demi digit angka yang sudah ku hapal di luar kepala sejak bertahun-tahun lalu.
“Halo,Andin.Di
please ke sini sekarang”
“Ok,ok”
***
Sepuluh menit berlalu, Andin turun dari sebuah BMW merah entah bersama siapa aku tak perduli. Aku segera berhamburan memeluk sahabat ku ini lalu menceritakan kejadia dua jam lima belas menit terakhir yang baru saja ku alami.
***
Sepuluh menit berlalu, Andin turun dari sebuah BMW merah entah bersama siapa aku tak perduli. Aku segera berhamburan memeluk sahabat ku ini lalu menceritakan kejadia dua jam lima belas menit terakhir yang baru saja ku alami.
“Udah Li lo yang sabar. Mungkin ini jalan yang di
kasih tuhan untuk lo ngelupain Gentar” ujar Andin mengenggam tangan mungilku
yang memucat.
“Gue rasa lo benar ini saatnya gue ngelupain dia”
jawabku sambil menghapus air mata ku kasar.
“Ehem” seseorang berdehem berat, wait who is he?
“Kak toiletnya dimana ya?” tanyanya dengan tampang
konyol yang mengemaskan.
“Di ujung ruangan yang pintunya warna putih” jawab Andin
menunjuk toilet di ujung ruangan.
“Boleh pinjem toiletnya kan kak?” tanyanya menunjukan
tampang konyol itu lagi. Aku hanya mengangguk pelan sembari menahan tawa.
“Dia adek sepupu gue namanya Bintang Mega Sirius,kuliah
di Aussie jurusan sastra prancis semester 6 juga. Tapi dia satu tahun di bawah
kita” bisik Andin.
“Ngapain ngomong ke gue?” tanyaku ikut berbisik.
“Alah,gue udah hapal kali sama tatapan lo itu” ujar Andin
dengan nada menggoda.
“Emang ya dari dulu gue itu nggak bisa boong” jawabku
menggaruk tengkuk yang tak gatal.
“Dia itu blasteran jerman tapi dari kecil tinggal di Bandung
dan sekarang dia mau pindah ke kampus kita, katanya sih dia mau ngehindar dari
calon tunangannya yang bahkan belum pernah dia liat sama sekali” ucap Andin
sambil mengeluarkan handphonenya.
Bintang keluar
dari toilet wajah konyolnya sudah bertransformasi menjadi sesosok pria dewasa,bahkan
aku baru sadar kalau rambutnya hitam kecoklatan. Mempesona.
“Bolehkan gue nunggu lagi?” tanyaku sedikit berbisik.
“Kambuh lagi dehh” jawab Andin menepuk jidatnya pelan.
***
***
Flashback On
“Siapa
kak?”
“Temen gue”
“Yang mana?”
“Itu tuh yang di foto sebelah ranjang gue, yang pake dress ungu”
“Manis juga. Btw,kenapa dia telpon lo?”
“Tau deh,galau kali”
“Udah punya cowok?”
“Hatinya udah, raganya belum”
“Kira-kira dia mau gak ya sama gue?”
“Lo suka?”
“Iyalah,manis gitu keliatannya polos lagi. Tipe gue banget”
“Ya udah ikut gue yuk”
“Kemana?”
“Kerumahnya si Alin lah”
“Alin siapa?”
“Temen gue yang lo bilang manis tadi,dodol”
“Ya udah yuk” “Ehh,kak”
“Kenapa?”
“Nanti lo tahan gue ya?”
“Emang lo kenapa?”
“Gue takut aja nanti waktu ngeliat kak Alin gue bakal meluk dia dan bawa dia pulang trus gue kawinin deh”
“Temen gue”
“Yang mana?”
“Itu tuh yang di foto sebelah ranjang gue, yang pake dress ungu”
“Manis juga. Btw,kenapa dia telpon lo?”
“Tau deh,galau kali”
“Udah punya cowok?”
“Hatinya udah, raganya belum”
“Kira-kira dia mau gak ya sama gue?”
“Lo suka?”
“Iyalah,manis gitu keliatannya polos lagi. Tipe gue banget”
“Ya udah ikut gue yuk”
“Kemana?”
“Kerumahnya si Alin lah”
“Alin siapa?”
“Temen gue yang lo bilang manis tadi,dodol”
“Ya udah yuk” “Ehh,kak”
“Kenapa?”
“Nanti lo tahan gue ya?”
“Emang lo kenapa?”
“Gue takut aja nanti waktu ngeliat kak Alin gue bakal meluk dia dan bawa dia pulang trus gue kawinin deh”
“Dasar
bocah edan lo!!!”
***
Aku percaya apa yang selama ini aku tunggu akan
menghasilkan sesuatu yang indah. Meski itu bukan yang selama ini aku tunggu,
malah aku mendapat sesuatu yang jauh lebih baik. Seseorang yang bukan hanya aku
cintai,tapi juga mencintaiku. Dan bila semua penantian akan membuahkan
kebahagian seperti ini aku rela menunggu untuk waktu yang lama. Seperti
sekarang ini,
“Lo mau bawa gue kemana sih Bi,kok mata gue pake di
tutup segala?”
“Udah
deh Li, gak usah bawel”
“Awas
aja kalo lo macam-macam sama gue, gue paketin balik lo ke neraka”
“Gak
macan-macam kok cantik, satu macam aja cukup kok”
“Idih,najis
deh lo”
“Hahaha,
ya udah buka matanya”
‘Alina Andromeda Amarta’
Itu
huruf-huruf yang terbentuk oleh lilin-lilin kecil di tengah danau. Menakjubkan.
“Alin,
Will you be my girlfriend?”
Dan tak
perlu menunggu untuk mengangguk dan berkata “Yes,I will”
Fin