Setelah belasan
cangkir kopi, baru saya sadari bahwa hampa yang terasa adalah rindu. Sesuatu
yang tak butuh aksara, bahasa atau pun rangkaian kalimat indah. Rindu hanya
butuh kamu. Sekarang saya menyerah untuk membunuh rindu, entah sudah berapa
banyak kalimat yang saya biarkan menguap tanpa mengunggkapkannya agar rindu ini
tetap menjadi milik saya saja. Tapi rindu terus berontak minta dilepaskan.
Dalam rindu saya menginginkan bayangan yang selama ini saya genggam kembali,
karena nyatanya bayangan itu lebih baik dari pada hitam yang berarti tiada.
Sulit memang mencintai kamu yang abu-abu karena saat semuanya jelas sudah
terlambat bagi saya untuk menjauh. Tapi untuk bertahan pun saya butuh lebih
dari hati yang besar, karena sejak awal yang kamu tawarkan bukan hanya bahagia
tapi juga luka. Saat saya memilih merelakan semua, itu juga berarti kita akan
kembali jadi dua planet yang mengitari orbit masing-masing tanpa pernah
bersinggungan, singkatnya kita kembali menjadi dua orang yang tak saling kenal.
Total Pageviews
Blog List
Saturday, December 5, 2015
Subscribe to:
Comments (Atom)