Setelah belasan
cangkir kopi, baru saya sadari bahwa hampa yang terasa adalah rindu. Sesuatu
yang tak butuh aksara, bahasa atau pun rangkaian kalimat indah. Rindu hanya
butuh kamu. Sekarang saya menyerah untuk membunuh rindu, entah sudah berapa
banyak kalimat yang saya biarkan menguap tanpa mengunggkapkannya agar rindu ini
tetap menjadi milik saya saja. Tapi rindu terus berontak minta dilepaskan.
Dalam rindu saya menginginkan bayangan yang selama ini saya genggam kembali,
karena nyatanya bayangan itu lebih baik dari pada hitam yang berarti tiada.
Sulit memang mencintai kamu yang abu-abu karena saat semuanya jelas sudah
terlambat bagi saya untuk menjauh. Tapi untuk bertahan pun saya butuh lebih
dari hati yang besar, karena sejak awal yang kamu tawarkan bukan hanya bahagia
tapi juga luka. Saat saya memilih merelakan semua, itu juga berarti kita akan
kembali jadi dua planet yang mengitari orbit masing-masing tanpa pernah
bersinggungan, singkatnya kita kembali menjadi dua orang yang tak saling kenal.
Setelah semua
ini matahari tetap akan terbit dari timur, malam tetap gelap dan saya tetap
hidup, semua akan berjalan dengan normal seperti sebelumnya. Tak ada rasa yang
porak-poranda, tak ada hujan di mata saya, atau pun mendung di wajah saya. Tapi
keegoisan rindu inginkan kamu, bukan dengan wujud bayangan seperti sebelumnya,
tapi kamu yang utuh. Saya jatuh bukan pada seseorang yang menyapa saya tiap
pagi atau seseorang yang mengirim pesan setiap sebelum saya tidur, saya jatuh
pada seseorang yang akhir-akhir ini selalu saya cari diantara gedung sekolah.
Walau saya tahu kamu tak pernah anggap rasa sebagai sesuatu yang serius, kamu
adalah seorang pemain handal dan penoreh luka yang hebat.
Setelah cangkir
kopi terakhir ini saya putuskan, saya memilih mencintai kamu yang abu-abu
dengan putih yang saya sembunyikan dalam hitam.