Setelah belasan
cangkir kopi, baru saya sadari bahwa hampa yang terasa adalah rindu. Sesuatu
yang tak butuh aksara, bahasa atau pun rangkaian kalimat indah. Rindu hanya
butuh kamu. Sekarang saya menyerah untuk membunuh rindu, entah sudah berapa
banyak kalimat yang saya biarkan menguap tanpa mengunggkapkannya agar rindu ini
tetap menjadi milik saya saja. Tapi rindu terus berontak minta dilepaskan.
Dalam rindu saya menginginkan bayangan yang selama ini saya genggam kembali,
karena nyatanya bayangan itu lebih baik dari pada hitam yang berarti tiada.
Sulit memang mencintai kamu yang abu-abu karena saat semuanya jelas sudah
terlambat bagi saya untuk menjauh. Tapi untuk bertahan pun saya butuh lebih
dari hati yang besar, karena sejak awal yang kamu tawarkan bukan hanya bahagia
tapi juga luka. Saat saya memilih merelakan semua, itu juga berarti kita akan
kembali jadi dua planet yang mengitari orbit masing-masing tanpa pernah
bersinggungan, singkatnya kita kembali menjadi dua orang yang tak saling kenal.
Total Pageviews
Blog List
Saturday, December 5, 2015
Saturday, November 14, 2015
Drama
Kepada
si pemeran utama
Sebelumnya
saya sudah pernah bilang, bermain peran tak selalu menyenangkan. Menjadi orang
lain terkadang melelahkan, tapi dengan beraninya kamu menjamin kesanggupan
bermain hingga pertunjukan selesai. Kamu biarkan janji-janji membumbung tinggi
di udara, hasil rangkaian dari otakmu yang bahkan belum sempurna. Dengan berani
kamu kenakan topeng lalu mulai naik keatas panggung dan mainkan peran. Dari
atas panggung kamu ulurkan tangan agar saya dapat naik dan setelah sebuah
pemikiran idiot saya ikut naik ke atas panggung, menjadi lawanmu beradu peran.
Categories
#DramaSeries
Wednesday, March 4, 2015
Tanpa Judul #edisicurhat
Saat ini rasanya seperti dejavu. Saya pernah mengalami ini sebelumnya. Kelas yang ramai tapi terasa sepi, tawa yang terasa hambar, senyum yang hanya sekedar lengkungan tanpa makna, percakapan-percakapan yang tak jelas. Semuanya menjelma menjadi tumpukan sampah. Mungkin memang saya terlalu perasa, terlalu moody juga. Tulisan saya kacau balau saat mood saya turun. Kalau di baca ulang sejak kalimat pertama jelas sudah kalau saya sedang galau berat (begitu juga tulisan saya tentang gelap dan terang, saya di kejar deadline tugas saat mengerjakannya). Emmm, mungkin akan lebih baik kalau saya galau berat dari pada harus seperti sekarang ini. Saya jadi zombie yang tak punya hati, tak punya perasaan. Hati saya kosong, hambar. Saya sedang tidak memendam perasaan pada siapa pun yang bisa membuat saya diam-diam tersenyum, saya juga tidak sedang dalam masa berduka karena patah hati. Saya hanya berdiri di pertengahan. Saya tak suka berdiri di posisi ini, juga perasaan jenis ini. Ahh, lihatlah saya kedengaran seperti seorang gadis genit. Saya memang suka saat hati saya bergetar, saat saya tiba-tiba tersenyum, saat pipi saya memerah, saya suka merasakan perasaan yang kita sebut naksir. Tapi saya juga menikmati saat hati saya rasanya teremas karena cemburu, saat rasanya oksigen di sekitar saya menipis, saat saya dengan jiwa barbar yang selama ini saya pendam sangat ingin menampar atau melempar segala macam barang ke seseorang. Sebenarnya saya ini apa ya? Saya tak pernah benar-benar menyukai seseorang, tak pernah juga benar-benar membenci, tak pernah benar-benar senang atau sedih juga. Saya penyeimbang, itu yang sering saya ucapkan ke teman saya. Saya jadi air saat panas, jadi api saat dingin, jadi terang dalam gelap. Tapi anehnya saya tak pernah bisa ada di pertengahan. Tunggu, tadi saya bilang seperti dejavu bukan? Iya ini dejavu saya pernah mengalami ini sebelumnya. Dulu saya juga pernah di pertengahan. Sampai saya akhirnya bertemu dengan dia, atau lebih tepatnya menemukannya. Tapi nyatanya saya juga tak benar-benar suka dengan dia. Sudahlah, saya sedang tak ingin membahas dia yang sudah berbahagia. Saya bingung mau menyelesaikan tulisan ini dengan kata-kata apa. Tapi intinya saya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua crayon yang sudah membuat hati saya berwarna-warni, saya bahagia dengan cara saya sendiri dan terima kasih untuk membuat saya lebih bahagia dengan adanya kalian.
Ditulis saat jam kosong, di tengah-tengah para gadis yang bercerita tentang hantu.
Ditulis saat jam kosong, di tengah-tengah para gadis yang bercerita tentang hantu.
Categories
#RandomTalk
Monday, March 2, 2015
Gagal Move On? #edisicurhat
Hallooo... hari ini saya mulai merencanakan buat ngepost di blog ini minimal satu minggu sekali. Walau pun, ya kalau mengukur tingkat kemalasan saya rasanya rencana itu mustahil, tapi gapapalah yang penting ada niat. Dan hari ini saya mau curhat, tentang hal gaje seperti biasanya. Judulnya: Gagal move on dalam hitungan detik kemudian move on lagi dalam hitungan menit. Hahaha, gaje banget cuyy. Tapi gak masalah buat saya karena yang baca bukan saya, hahaha. Udahlah saya bingung jadinya, selamat membaca.
Move on itu susah. Ya, saya setuju seratus juta persen dengan kata-kata itu. Saya pernah menyukai seorang senior sejak rok biru SMP saya masih menyapu lantai sampai rok SMA saya kekecilan. Double hahaha, rok saya kekecilan karena emang sengaja di kecilin pinggangnya. Dan triple stt...stt..stt... ini rahasia. Ya allah, ada gitu rahasia di upload ke blog. Tapi seriusan saya suka sama dia dari jaman bahula. Udah lebih dari 3,5 tahun kalau di hitung dari awal sampe move on. Kalau di hitung harinya udah 1000 hari lebih. Keren ya saya, bisa berdiri di tempat yang sama, memandang ke arah yang sama, dan melafalkan nama yang selama 3,5 tahun, nonstop. Ehh, enggak ding saya bohong. Selama 3,5 tahun itu saya nggak cuma suka sama dia. Ada anak kelas saya yang waktu itu bagi saya kece, senior taekwondo yang juga saya anggap kece, koko sipit yang putihnya kaya cat tembok, adek kelas yang imut-imut, dan banyak lagi cowok-cowok yang numpang lewat ke hati saya. Tapi biar begitu dia tetap jadi tempat saya kembali *asikkk. Sampai akhirnya pada suatu pagi yang saya nggak tau cerah atau mendung. Waktu itu saya mau kirim bbm, dan tralaladudurimpa. Triple suprise buat saya karena kontak bbm saya berkurang satu. Saya alay? kalau yang ngedelcon saya anak alay, teman SMP, teman SMA, atau teman satu kelas pun saya tetap akan bersikap biasa. Tapi yang ngedelcon saya itu dia. Iya, si senior syalaladudurimpa, yang sudah 1000 hari lebih saya jadikan matahari itu yang ngedelcon saya untuk ketiga kalinya. Jadi ceritanya saya emang udah langganan didelcon sama dia.
Tapi saya masih sok tegar. Nguncir rambut lebih tinggi dari biasanya, mandi lebih lama, pake parfum yang udah dua bulan dibeliin ibu tapi belum saya pake-pake. Pokoknya hari itu saya berusaha lebih cantik dari biasanya, walaupun sebenarnya selama ini kecantikan saya udah melebihi batas *huekkk. Selama beberapa hari saya masih bisa sok tegar. Sampai disuatu hari yang panas, entah kenapa saya usil pinjem hp teman saya yang juga punya kontaknya (dia dapat pin si kakak dari saya loh). Dan tada..... Jadi ada dua hal yang mengagetkan saya. Pertama, dia nggak didelcon. Kedua, gila selama beberapa bulan saya punya kontak dia, dia nggak pernah sekali pun pake display picture sekece ini. Masa bego, sama aplikasi yang dia pakai sampai jerawatnya pada ilang. Yang pasti dia keren banget di foto itu. Pertahanan saya sontak pecah. Saya langsung curhat-curhat alay kesemua orang yang saya temuin dan cerita panjang lebar. Semuanya komentar gini "tuh kakak gila?" "Ya ampun, sabar ya." "Tu kakak kenapa sih? Kejedot tembok?" "Bukannya udah pernah chat berdua?" Dan saya cuma ngangguk-ngangguk sambil ngedumel galau ke mereka. Sampai akhirnya saya cerita ke melisa dan Triple... Triple... syalaladudurimpa nananadududu krikkrik. Dengan santai dia bilang "Mungkin dia nggak sadar lo ada di dunia." Dan Darrrr.... *efeksuaragagal rasanya disambar petir, sumpah. Walau pun saya nggak pernah di sambar petir dan nggak mau juga. Tapi seriusan rasanya mungkin kaya disambar petir. Gila rasanya saja dipaksa bangun dari mimpi pake air seember. Dan saat itu juga saya putuskan dia nggak boleh lebih lama lagi jadi matahari saya, nggak boleh lagi di panggil soul juga (soul itu panggilan sayang saya buat dia).
Dan selama nggak sampe satu bulan saya bisa move on dari dia. Rasanya datar, sedatar-datarnya dataran. Saya nggak degdegan lagi waktu dia kebetulan lewat, nggak melayang juga kalau kebelutan lihat dia senyum. Pokoknya saya satu milyar persen udah move on.
Tapi di suatu siang menjelang sore yang mendung. Saya liat dia pake pakaian hitam-hitam, bukan mau ngelayat loh tapi ala-ala bodyguard gitu. Kali ini dia bersinar melebihi sebelum-sebelumnya. Dan seketika saya teriak dan cubit-cubit Melisa dengan mata yang merah, asli mau mewek. 'Saya gagal move on'. Cuma itu yang bisa saya ucapin dan dengan dramatis melisa nepuk-nepuk pundak saya. Selama beberapa menit saya kaya orang sakau, gelinjingan, gak bisa diem kaya orang nahan pipis, keringet dingin, gemetar gak jelas, pokoknya saya jelek banget waktu itu. Sampe beberapa menit kemudian saya liat dia lagi, tapi udah ganti kostum. Asli saya nggak mau ngomong gimana kostumnya waktu itu. Saya nggak mau kalian tiba-tiba pusing terus muntah-muntah. Dan ajaib saya bisa ngomong gini. "Yang kaya gini yang saya tungguin selama 3,5 tahun? astagfirullah"
Saya bingung gimana mau akhirin tulisan ini. Intinya kalau di tanya saya masih suka dia atau nggak? Jawabannya ya. Tapi kalau di tanya masih mengharapkan atau nggak? Dengan tegas dan nggak tahu diri saya jawab nggak. 1000 hari itu lebih dari cukup untuk menyadarkan dia kalau saya ada, kalau saya memperhatikan dan saya selalu mendoakan. Tapi berhubung dia nggak sadar juga, ya udah sih saya pergi. Mungkin untuk orang lain saya udah jadi orang yang lemah karena nggak bisa mempertahankan perasaan saya lagi, nggak bisa bertahan di tempat yang sama dengan 3,5 lalu. Tapi buat saya sekarang saya sudah jadi orang yang kuat, seriusan. Bagi orang yang selama 1000 hari ini matanya, langkahnya, juga hatinya terpaku kesatu titik, bisa berpaling dan mencari kebahagiaan baru itu perlu sesuatu yang lebih dari kekuatan. Dan selamat untuk saya, juga untuk soul yang sekarang sedang berbahagia.
Ditulis dengan jari super pegal dari jam biologi sampai istirahat makan siang. Hahaha, lupakan. Saya lebay !!
Move on itu susah. Ya, saya setuju seratus juta persen dengan kata-kata itu. Saya pernah menyukai seorang senior sejak rok biru SMP saya masih menyapu lantai sampai rok SMA saya kekecilan. Double hahaha, rok saya kekecilan karena emang sengaja di kecilin pinggangnya. Dan triple stt...stt..stt... ini rahasia. Ya allah, ada gitu rahasia di upload ke blog. Tapi seriusan saya suka sama dia dari jaman bahula. Udah lebih dari 3,5 tahun kalau di hitung dari awal sampe move on. Kalau di hitung harinya udah 1000 hari lebih. Keren ya saya, bisa berdiri di tempat yang sama, memandang ke arah yang sama, dan melafalkan nama yang selama 3,5 tahun, nonstop. Ehh, enggak ding saya bohong. Selama 3,5 tahun itu saya nggak cuma suka sama dia. Ada anak kelas saya yang waktu itu bagi saya kece, senior taekwondo yang juga saya anggap kece, koko sipit yang putihnya kaya cat tembok, adek kelas yang imut-imut, dan banyak lagi cowok-cowok yang numpang lewat ke hati saya. Tapi biar begitu dia tetap jadi tempat saya kembali *asikkk. Sampai akhirnya pada suatu pagi yang saya nggak tau cerah atau mendung. Waktu itu saya mau kirim bbm, dan tralaladudurimpa. Triple suprise buat saya karena kontak bbm saya berkurang satu. Saya alay? kalau yang ngedelcon saya anak alay, teman SMP, teman SMA, atau teman satu kelas pun saya tetap akan bersikap biasa. Tapi yang ngedelcon saya itu dia. Iya, si senior syalaladudurimpa, yang sudah 1000 hari lebih saya jadikan matahari itu yang ngedelcon saya untuk ketiga kalinya. Jadi ceritanya saya emang udah langganan didelcon sama dia.
Tapi saya masih sok tegar. Nguncir rambut lebih tinggi dari biasanya, mandi lebih lama, pake parfum yang udah dua bulan dibeliin ibu tapi belum saya pake-pake. Pokoknya hari itu saya berusaha lebih cantik dari biasanya, walaupun sebenarnya selama ini kecantikan saya udah melebihi batas *huekkk. Selama beberapa hari saya masih bisa sok tegar. Sampai disuatu hari yang panas, entah kenapa saya usil pinjem hp teman saya yang juga punya kontaknya (dia dapat pin si kakak dari saya loh). Dan tada..... Jadi ada dua hal yang mengagetkan saya. Pertama, dia nggak didelcon. Kedua, gila selama beberapa bulan saya punya kontak dia, dia nggak pernah sekali pun pake display picture sekece ini. Masa bego, sama aplikasi yang dia pakai sampai jerawatnya pada ilang. Yang pasti dia keren banget di foto itu. Pertahanan saya sontak pecah. Saya langsung curhat-curhat alay kesemua orang yang saya temuin dan cerita panjang lebar. Semuanya komentar gini "tuh kakak gila?" "Ya ampun, sabar ya." "Tu kakak kenapa sih? Kejedot tembok?" "Bukannya udah pernah chat berdua?" Dan saya cuma ngangguk-ngangguk sambil ngedumel galau ke mereka. Sampai akhirnya saya cerita ke melisa dan Triple... Triple... syalaladudurimpa nananadududu krikkrik. Dengan santai dia bilang "Mungkin dia nggak sadar lo ada di dunia." Dan Darrrr.... *efeksuaragagal rasanya disambar petir, sumpah. Walau pun saya nggak pernah di sambar petir dan nggak mau juga. Tapi seriusan rasanya mungkin kaya disambar petir. Gila rasanya saja dipaksa bangun dari mimpi pake air seember. Dan saat itu juga saya putuskan dia nggak boleh lebih lama lagi jadi matahari saya, nggak boleh lagi di panggil soul juga (soul itu panggilan sayang saya buat dia).
Dan selama nggak sampe satu bulan saya bisa move on dari dia. Rasanya datar, sedatar-datarnya dataran. Saya nggak degdegan lagi waktu dia kebetulan lewat, nggak melayang juga kalau kebelutan lihat dia senyum. Pokoknya saya satu milyar persen udah move on.
Tapi di suatu siang menjelang sore yang mendung. Saya liat dia pake pakaian hitam-hitam, bukan mau ngelayat loh tapi ala-ala bodyguard gitu. Kali ini dia bersinar melebihi sebelum-sebelumnya. Dan seketika saya teriak dan cubit-cubit Melisa dengan mata yang merah, asli mau mewek. 'Saya gagal move on'. Cuma itu yang bisa saya ucapin dan dengan dramatis melisa nepuk-nepuk pundak saya. Selama beberapa menit saya kaya orang sakau, gelinjingan, gak bisa diem kaya orang nahan pipis, keringet dingin, gemetar gak jelas, pokoknya saya jelek banget waktu itu. Sampe beberapa menit kemudian saya liat dia lagi, tapi udah ganti kostum. Asli saya nggak mau ngomong gimana kostumnya waktu itu. Saya nggak mau kalian tiba-tiba pusing terus muntah-muntah. Dan ajaib saya bisa ngomong gini. "Yang kaya gini yang saya tungguin selama 3,5 tahun? astagfirullah"
Saya bingung gimana mau akhirin tulisan ini. Intinya kalau di tanya saya masih suka dia atau nggak? Jawabannya ya. Tapi kalau di tanya masih mengharapkan atau nggak? Dengan tegas dan nggak tahu diri saya jawab nggak. 1000 hari itu lebih dari cukup untuk menyadarkan dia kalau saya ada, kalau saya memperhatikan dan saya selalu mendoakan. Tapi berhubung dia nggak sadar juga, ya udah sih saya pergi. Mungkin untuk orang lain saya udah jadi orang yang lemah karena nggak bisa mempertahankan perasaan saya lagi, nggak bisa bertahan di tempat yang sama dengan 3,5 lalu. Tapi buat saya sekarang saya sudah jadi orang yang kuat, seriusan. Bagi orang yang selama 1000 hari ini matanya, langkahnya, juga hatinya terpaku kesatu titik, bisa berpaling dan mencari kebahagiaan baru itu perlu sesuatu yang lebih dari kekuatan. Dan selamat untuk saya, juga untuk soul yang sekarang sedang berbahagia.
Ditulis dengan jari super pegal dari jam biologi sampai istirahat makan siang. Hahaha, lupakan. Saya lebay !!
Categories
#RandomTalk
Saturday, January 24, 2015
Dari Sisi Ini
Saat itu kelas terlihat aneh, buku-buku berserakan di
meja, kening-kening berkerut, mata-mata tertutup, bibir-bibir melafalkan
berbagai kata, membentuk sebuah kalimat, sebuah paragraph menjadi satu
kesatuan, materi ulangan. Iya, mereka menghapal materi untuk ulangan setelah
jam istirahat nanti. Sebenarnya ini ulangan mendadak. Dari mana kami tahu?
Simple, teriakan rusuh anak kelas sebelah, muka yang kusut saat istirahat, para
gadis yang
Categories
#Cerpen
Subscribe to:
Comments (Atom)