Kepada
si pemeran utama
Sebelumnya
saya sudah pernah bilang, bermain peran tak selalu menyenangkan. Menjadi orang
lain terkadang melelahkan, tapi dengan beraninya kamu menjamin kesanggupan
bermain hingga pertunjukan selesai. Kamu biarkan janji-janji membumbung tinggi
di udara, hasil rangkaian dari otakmu yang bahkan belum sempurna. Dengan berani
kamu kenakan topeng lalu mulai naik keatas panggung dan mainkan peran. Dari
atas panggung kamu ulurkan tangan agar saya dapat naik dan setelah sebuah
pemikiran idiot saya ikut naik ke atas panggung, menjadi lawanmu beradu peran.
Kamu
mainkan peran sebagai pangeran sempurna dengan harapan gadis lugu ini akan
tergoda, tapi tidak wahai pemeran utama, kamu hanya tak tahu bahwa di panggung
yang lebih sepi saya pun sudah sering bermain drama. Menghancurkan harapan,
mematahkan perasaan, atau mengabaikan cinta, semua bukan hal sulit untuk saya.
Baiklah, mungkin di drama lainnya saya pun pernah dihancurkan, dipatahkan atau
diabaikan tapi percayalah hati saya tak pernah cukup terluka hingga bisa
meneteskan air mata.
Wahai
si pemeran utama mungkin saya bukan seorang ‘pemain’ seperti kamu tapi saya pun
terlalu pintar untuk disebut gadis lugu, saya terlalu serigala untuk dikatakan
domba. Saat kamu ulurkan tangan saya tahu sebenarnya kamu tak pernah berniat
menjadikan saya pemeran utama, saya hanya figuran yang menggantikan si pemeran
utama sesungguhnya. Wahai si pemeran utama, saya tak suka saat kamu sibakkan
riasan saya, saat kamu buang nama panggung saya atau saat kamu arahkan lampu
sorot kearah wajah saya, saya ingin kembali pada panggung saya sendiri. Wahai
si pemeran utama, saya bukan boneka yang bisa kamu pamerkan, saya bukan api
yang membuat si pemeran utama sebenarnya panas dan kembali kesisimu.
Wahai
si pemeran utama, jangan pernah mengajak saya atau siapa pun ikut bergabung
bersamamu dalam kubangan patah hati. Mematahkan hati yang lain tak akan membuat
lukamu sendiri pulih. Selesaikan urusanmu dengan si masa lalu, kubur egomu
untuk membuatnya cemburu, niatkan dalam hatimu untuk membahagiakan seseorang
yang baru. Kemudian cari seseorang yang bukan saya, karena saya terlalu lelah
jika terus dipinta untuk menunggu. Karena saya pun terlalu lama habiskan waktu
dengan si masa lalu, hingga sekarang yang tersisa hanya waktu untuk meraih
bintang yang terlanjur saya gantung setinggi mungkin. Atau jika keadaan belum
berubah, mungkin saat kita sudah sama-sama memeluk si bintang kita bisa bertemu
lagi lalu mulai bicara kembali tentang drama yang belum usai tapi untuk
sekarang bagaimana kalau kita akhiri saja?
Dari
si figuran yang kamu temukan dalam kabut
November
2015