Saturday, January 24, 2015

Dari Sisi Ini


            Saat itu kelas terlihat aneh, buku-buku berserakan di meja, kening-kening berkerut, mata-mata tertutup, bibir-bibir melafalkan berbagai kata, membentuk sebuah kalimat, sebuah paragraph menjadi satu kesatuan, materi ulangan. Iya, mereka menghapal materi untuk ulangan setelah jam istirahat nanti. Sebenarnya ini ulangan mendadak. Dari mana kami tahu? Simple, teriakan rusuh anak kelas sebelah, muka yang kusut saat istirahat, para gadis yang
berbisik menyamakan jawaban lalu pura-pura berpaling saat kami melihat. Hmm, benar-benar kentara.
            Aku melemparkan pandangan pada satu-satunya orang yang terlihat tidak sibuk, Alin. Tak seperti gadis lain yang akan terbirit-birit mencari buku dan menghafal dengan mulut komat-kamit ala mbah dukun, ia terlihat begitu tenang. Tangannya sibuk mencoret mejanya dengan pena. Hei, apa yang dia lakukan? Membuat graffiti? Oh, tentu tidak. Nilainya tak pernah lebih dari 70 di kelas seni. Atau ia membuat nama pacarnya di sana? Bukankah para gadis senang melakukan itu? Hmm, mungkin aku salah. Dia tidak punya pacar, dia sedang patah hati. Seperti para gadis, dia korban PHP.
            Aku mendekat ke arahnya, mencuri pandang ke arah meja. Aku melihatnya ada huruf P di sana, lalu O, W, kemudian E, dan huppp. Tangannya dengan lincah menutupi hasil karyanya itu dengan buku. Murid lain yang sudah bangun dari persemediannya mulai mencuri pandang ke mejanya. Dan seperti biasa, ia tak perduli.
            Tak lama gerombolannya datang, para gadis manis yang kulitnya mencoklat hasil hormat di tengah lapangan karena pr matematika yang katanya, ‘ketinggalan’. Jujur aku tak mengerti jalan pikiran mereka. Mereka cantik, lumayan cerdas (mungkin), dan mereka juga cukup baik. Tapi entah eksistensi dan kepopuleran jenis apa yang mereka kejar dengan cara gila seperti sekarang ini. Tunggu bukankah tiga kali di keluarkan dari kelas dalam satu minggu malah mengancam eksistensi mu? Kalian bisa di keluarkan dari sekolah, bodoh!!
            Ia tergelak nakal sebelum beranjak meninggalkan kelas. Aku mendekati mejanya saat ia benar-benar menjauh, kuintip apa yang ia tulis. Astaga! Gadis gila, aku yakin kami akan mendapat kejutan besar nanti.
***
            Bel berdering, Pak guru membagikan kertas ulangan minggu lalu di tambah selembar kertas soal baru. Kulihat senyumnya mengembang, lalu bertos ria dengan gerombolannya sembari sesekali berteriak, meloncat kegirangan lalu berputar-putar. Ugh, para gadis.
            Lalu mereka –kecuali dia– mulai menyombongkan kertas tadi. Terlihat angka 100 dengan tinta merah di sana. Ia bangga? Kurasa tidak. Matanya, senyumnya, semuanya hambar. Ia bukan tipe orang yang bisa berbangga hati dengan apa yang bukan hasilnya, aku tahu itu. Bahkan kurasa ia kecewa, ia sudah berbohong pada dirinya sendiri.
            45 menit berjalan sekejab mata. Ia orang pertama yang meletakkan kertas jawaban di atas meja guru. Senyumnya terus mengembang, sampai Vika –gadis yang duduk di sampingnya – membisikan sesuatu pada Pak Guru. Wajah Pak Guru merah padam, ia pasti merasa kecolongan. Alin menyadari perubahan wajah Pak Guru, wajahnya yang khas Indonesia seketika menjadi pucat.
            Pak Guru berdehem berat lalu bangkit dari tempat duduknya. Ia mulai berceloteh panjang lebar mengenai pengalamannya menjadi guru dengan bumbu-bumbu kenakalan murid-muridnya terdahulu. Kelas menjadi rusuh dengan komentar kami. Sedangkan Alin menenggelamkan wajahnya di atas kedua lengan yang ia satukan, kupingnya memerah, tubuhnya bergetar, ia merasa tersindir.
            “Jadi, sekarang jujur. Siapa yang curang di ulangan tadi?” tanya Pak Guru datar.
            Kelas mendadak hening, komentar-komentar yang baru saja ingin di muntahkan kembali tertelan. Saat yang lain sibuk mengedarkan pandangan sembari memberi isyarat ‘Siapa?’ sebuah tangan terangkat ke udara. Tangan yang sama dengan tangan yang tadi menulis di atas meja, tangan yang tadi bertos ria, tangan yang pertama kali meletakkan lembar jawaban, itu tangan Alin.
            Gerombolannya memicingkan mata ke arah Alin, entah mereka tak menyangka, berharap Alin hanya ingin bilang kalau ia ingin permisi ke toilet dan tidak mengakui kecurangannya, atau berharap gadis itu tidak membawa mereka ke arena hukuman yang baru di masuki Alin. Entahlah.
            Pak Guru kembali melanjutkan ceritanya, tangan Alin kembali berlipat di atas meja, ia kembali tertunduk. Aku menepuk punggungnya lalu tersenyum dan mengacungkan jempol saat ia berbalik. Ia membalasnya dengan sebuah senyuman kecut.
            Aku tahu gadis ini berbeda, ia gadis pemberani yang bisa mengakui kesalahannya sendiri. Tunggu, atau gadis ini justru seorang gadis penakut yang tak berani untuk terlalu lama berbohong. Terserahlah, yang jelas sekarang aku bangga padanya. Pada Alin, gadisku. Hei, kenapa melihat ku begitu? Aku bisa memanggilnya gadisku bukan? Ingat, dia tidak punya pacar dan begitu pula aku.
***
            Esok harinya Alin tampak berbeda, dagunya yang biasa terangkat angkuh sekarang terlihat tertunduk. Alisku mulai terangkat saat Alin mendekati Vita yang sedang merapikan jurnal di meja guru. Apa Alin akan memberi pelajaran pada Vita? Ah, tentu saja tidak, ia tak akan senekad itu. Ya, walaupun dulu ia pernah ‘menampar’ seorang anak laki-laki saat SD, tapi aku tak yakin ia akan melakukannya pada Vita.
            “Ta ada yang mau aku omongin sama kamu,” ujar Alin bergetar.
            Vita mendongak, ia tampak terkejut dengan sosok di hadapannya tapi bibirnya tetap tertutup rapat.
            “Ta sebelumnya makasih ya buat yang kemaren,” ujar Alin yang kontan membuat Vita terbelalak. “Selama ini aku nggak percaya sama kemampuan ku Ta, padahal aku bisa ngerjain soal kemaren tanpa contekan. Aku juga tau kok, selama ini kamu sama cewek-cewek lain di kelas benci kan sama aku? Aku nggak salahin kalian kok karena aku emang pantas di benci. Sekali lagi makasih ya Ta, dan maaf kalau aku ada salah sama kamu,” lanjutnya tersenyum manis.
            Vita masih melongo heran saat Alin pergi dari hadapannya. Entah apa yang ada di pikiran Vita, yang jelas sekarang gadis itu kembali membuktikan bahwa ia layak menjadi kebangganku.
***
            Segitiga permuda, itu nama baru untuk bekas gerombolan Alin dulu. Setelah kejadian itu ia di pindahkan dari lingkaran setan gerombolannya dan menjadi malaikat di antara para penyamun yang duduk di deretan belakang. Khawatir? Kalau gadis itu bukan Alin tentu aku akan khawatir. Siapa juga yang tidak khawatir saat ‘gadisnya’ duduk di antara para anak laki-laki yang pikirannya sebelas dua belas dengan comberan, jorok.
            Tapi Alin tak membuat ku khawatir sama sekali, ia punya tembok penghalang di kedua telinganya yang bisa membuatnya tetap berkonsentrasi mengerjakan soal saat dua anak laki-laki di belakangnya berbisik tentang Maria Ozawa. Dan satu lagi, ia tak pernah lupa membawa novel hard cover dengan tebal minimal 250 halaman yang bisa membuat orang yang mencoba menyentuhnya pingsan dengan sekali pukulan di kepala.
            Dan sekarang di sanalah Alin bersama teman barunya. Ia berdiri di halte sembari berbincang ria. Beberapa minggu ini ia memang tampak berbeda, bukan hanya tentang keluar dari lingaran setan, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Mata itu tampak selalu berbinar bahkan di pelajaran olahraga yang di bencinya atau di pelajaran Sejarah yang membuatnya mengantuk. Aku tak tahu dopping jenis apa yang ia minum –
            Tunggu, itu bukan obat dopping. Itu sesuatu yang biasa di gambarkan dengan bentuk hati berwarna merah muda. Arghh, sial. Gadis ku sekarang sedang jatuh cinta. Aku mengikuti fokus matanya dan, dapat! Itu dia, seorang senior degan seragam yang sama dengan kami, kaos olahraga merah marun dengan lambang besar Fantasi School di dada.
            Ribuan pertanyaan mulai berputar di otak ku. Apa dia yang menyebabkan mata itu berbiar indah? Apa dia yang menjadi alasan Alin selalu datang pukul 06.45 dan jalan bagai putri raja saat melewati koridoor depan? Apa dia yang membuat Alin bersikeras membantu penjaga perpustakaan mengantarkan buku ke kelas atas? Apa dia ‘Malaikat Bermata Coklat’ di puisi Alin? Apa dia ‘Muse’ di lukisan barunya? Dan masih ada banyak ‘Apa’ lagi untuknya. Ahh, sudahlah toh aku sudah kalah.
            Dan kamu ‘Senior bermata coklat’ terima kasih karena telah mengubah Alin. Terima kasih telah menjadi tujuan baru hidupnya, jaga gadisku dan bahagiakan ia. Dan untuk Alin, gadisku. Jangan berubah lagi, tetaplah jadi Alin yang baik hati dan berjiwa besar. Jangan nakal atau pun sedih lagi, jangan buat aku menyesal telah melepaskan mu. Bahagia selalu gadis cantik ku.
            Dari aku yang selalu mengamati mu dari sisi ini.
***


 

Falinov Random Story Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review