Saat itu kelas terlihat aneh, buku-buku berserakan di
meja, kening-kening berkerut, mata-mata tertutup, bibir-bibir melafalkan
berbagai kata, membentuk sebuah kalimat, sebuah paragraph menjadi satu
kesatuan, materi ulangan. Iya, mereka menghapal materi untuk ulangan setelah
jam istirahat nanti. Sebenarnya ini ulangan mendadak. Dari mana kami tahu?
Simple, teriakan rusuh anak kelas sebelah, muka yang kusut saat istirahat, para
gadis yang
berbisik menyamakan jawaban lalu pura-pura berpaling saat kami
melihat. Hmm, benar-benar kentara.
Aku melemparkan pandangan pada satu-satunya orang yang
terlihat tidak sibuk, Alin. Tak seperti gadis lain yang akan terbirit-birit
mencari buku dan menghafal dengan mulut komat-kamit ala mbah dukun, ia terlihat
begitu tenang. Tangannya sibuk mencoret mejanya dengan pena. Hei, apa yang dia
lakukan? Membuat graffiti? Oh, tentu tidak. Nilainya tak pernah lebih dari 70
di kelas seni. Atau ia membuat nama pacarnya di sana? Bukankah para gadis
senang melakukan itu? Hmm, mungkin aku salah. Dia tidak punya pacar, dia sedang
patah hati. Seperti para gadis, dia korban PHP.
Aku mendekat ke arahnya, mencuri pandang ke arah meja.
Aku melihatnya ada huruf P di sana, lalu O, W, kemudian E, dan huppp. Tangannya
dengan lincah menutupi hasil karyanya itu dengan buku. Murid lain yang sudah
bangun dari persemediannya mulai mencuri pandang ke mejanya. Dan seperti biasa,
ia tak perduli.
Tak lama gerombolannya datang, para gadis manis yang
kulitnya mencoklat hasil hormat di tengah lapangan karena pr matematika yang
katanya, ‘ketinggalan’. Jujur aku tak mengerti jalan pikiran mereka. Mereka
cantik, lumayan cerdas (mungkin), dan mereka juga cukup baik. Tapi entah
eksistensi dan kepopuleran jenis apa yang mereka kejar dengan cara gila seperti
sekarang ini. Tunggu bukankah tiga kali di keluarkan dari kelas dalam satu
minggu malah mengancam eksistensi mu? Kalian bisa di keluarkan dari sekolah,
bodoh!!
Ia tergelak nakal sebelum beranjak meninggalkan kelas.
Aku mendekati mejanya saat ia benar-benar menjauh, kuintip apa yang ia tulis.
Astaga! Gadis gila, aku yakin kami akan mendapat kejutan besar nanti.
***
Bel berdering, Pak guru membagikan kertas ulangan minggu
lalu di tambah selembar kertas soal baru. Kulihat senyumnya mengembang, lalu
bertos ria dengan gerombolannya sembari sesekali berteriak, meloncat kegirangan
lalu berputar-putar. Ugh, para gadis.
Lalu mereka –kecuali dia– mulai menyombongkan kertas
tadi. Terlihat angka 100 dengan tinta merah di sana. Ia bangga? Kurasa tidak.
Matanya, senyumnya, semuanya hambar. Ia bukan tipe orang yang bisa berbangga
hati dengan apa yang bukan hasilnya, aku tahu itu. Bahkan kurasa ia kecewa, ia
sudah berbohong pada dirinya sendiri.
45 menit berjalan sekejab mata. Ia orang pertama yang
meletakkan kertas jawaban di atas meja guru. Senyumnya terus mengembang, sampai
Vika –gadis yang duduk di sampingnya – membisikan sesuatu pada Pak Guru. Wajah
Pak Guru merah padam, ia pasti merasa kecolongan. Alin menyadari perubahan
wajah Pak Guru, wajahnya yang khas Indonesia seketika menjadi pucat.
Pak Guru berdehem berat lalu bangkit dari tempat
duduknya. Ia mulai berceloteh panjang lebar mengenai pengalamannya menjadi guru
dengan bumbu-bumbu kenakalan murid-muridnya terdahulu. Kelas menjadi rusuh
dengan komentar kami. Sedangkan Alin menenggelamkan wajahnya di atas kedua
lengan yang ia satukan, kupingnya memerah, tubuhnya bergetar, ia merasa
tersindir.
“Jadi, sekarang jujur. Siapa yang curang di ulangan
tadi?” tanya Pak Guru datar.
Kelas mendadak hening, komentar-komentar yang baru saja
ingin di muntahkan kembali tertelan. Saat yang lain sibuk mengedarkan pandangan
sembari memberi isyarat ‘Siapa?’ sebuah tangan terangkat ke udara. Tangan yang
sama dengan tangan yang tadi menulis di atas meja, tangan yang tadi bertos ria,
tangan yang pertama kali meletakkan lembar jawaban, itu tangan Alin.
Gerombolannya memicingkan mata ke arah Alin, entah mereka
tak menyangka, berharap Alin hanya ingin bilang kalau ia ingin permisi ke
toilet dan tidak mengakui kecurangannya, atau berharap gadis itu tidak membawa
mereka ke arena hukuman yang baru di masuki Alin. Entahlah.
Pak Guru kembali melanjutkan ceritanya, tangan Alin
kembali berlipat di atas meja, ia kembali tertunduk. Aku menepuk punggungnya
lalu tersenyum dan mengacungkan jempol saat ia berbalik. Ia membalasnya dengan
sebuah senyuman kecut.
Aku tahu gadis ini berbeda, ia gadis pemberani yang bisa
mengakui kesalahannya sendiri. Tunggu, atau gadis ini justru seorang gadis
penakut yang tak berani untuk terlalu lama berbohong. Terserahlah, yang jelas
sekarang aku bangga padanya. Pada Alin, gadisku. Hei, kenapa melihat ku begitu?
Aku bisa memanggilnya gadisku bukan? Ingat, dia tidak punya pacar dan begitu
pula aku.
***
Esok harinya Alin tampak berbeda, dagunya yang biasa
terangkat angkuh sekarang terlihat tertunduk. Alisku mulai terangkat saat Alin
mendekati Vita yang sedang merapikan jurnal di meja guru. Apa Alin akan memberi
pelajaran pada Vita? Ah, tentu saja tidak, ia tak akan senekad itu. Ya,
walaupun dulu ia pernah ‘menampar’ seorang anak laki-laki saat SD, tapi aku tak
yakin ia akan melakukannya pada Vita.
“Ta ada yang mau aku omongin sama kamu,” ujar Alin
bergetar.
Vita mendongak, ia tampak terkejut dengan sosok di
hadapannya tapi bibirnya tetap tertutup rapat.
“Ta sebelumnya makasih ya buat yang kemaren,” ujar Alin
yang kontan membuat Vita terbelalak. “Selama ini aku nggak percaya sama
kemampuan ku Ta, padahal aku bisa ngerjain soal kemaren tanpa contekan. Aku
juga tau kok, selama ini kamu sama cewek-cewek lain di kelas benci kan sama
aku? Aku nggak salahin kalian kok karena aku emang pantas di benci. Sekali lagi
makasih ya Ta, dan maaf kalau aku ada salah sama kamu,” lanjutnya tersenyum
manis.
Vita masih melongo heran saat Alin pergi dari hadapannya.
Entah apa yang ada di pikiran Vita, yang jelas sekarang gadis itu kembali
membuktikan bahwa ia layak menjadi kebangganku.
***
Segitiga permuda, itu nama baru untuk bekas gerombolan
Alin dulu. Setelah kejadian itu ia di pindahkan dari lingkaran setan
gerombolannya dan menjadi malaikat di antara para penyamun yang duduk di
deretan belakang. Khawatir? Kalau gadis itu bukan Alin tentu aku akan khawatir.
Siapa juga yang tidak khawatir saat ‘gadisnya’ duduk di antara para anak laki-laki
yang pikirannya sebelas dua belas dengan comberan, jorok.
Tapi Alin tak membuat ku khawatir sama sekali, ia punya
tembok penghalang di kedua telinganya yang bisa membuatnya tetap berkonsentrasi
mengerjakan soal saat dua anak laki-laki di belakangnya berbisik tentang Maria
Ozawa. Dan satu lagi, ia tak pernah lupa membawa novel hard cover dengan tebal
minimal 250 halaman yang bisa membuat orang yang mencoba menyentuhnya pingsan
dengan sekali pukulan di kepala.
Dan sekarang di sanalah Alin bersama teman barunya. Ia
berdiri di halte sembari berbincang ria. Beberapa minggu ini ia memang tampak
berbeda, bukan hanya tentang keluar dari lingaran setan, tapi ada sesuatu yang
berbeda di matanya. Mata itu tampak selalu berbinar bahkan di pelajaran
olahraga yang di bencinya atau di pelajaran Sejarah yang membuatnya mengantuk.
Aku tak tahu dopping jenis apa yang ia minum –
Tunggu, itu bukan obat dopping. Itu sesuatu yang biasa di
gambarkan dengan bentuk hati berwarna merah muda. Arghh, sial. Gadis ku
sekarang sedang jatuh cinta. Aku mengikuti fokus matanya dan, dapat! Itu dia,
seorang senior degan seragam yang sama dengan kami, kaos olahraga merah marun
dengan lambang besar Fantasi School di dada.
Ribuan pertanyaan mulai berputar di otak ku. Apa dia yang
menyebabkan mata itu berbiar indah? Apa dia yang menjadi alasan Alin selalu
datang pukul 06.45 dan jalan bagai putri raja saat melewati koridoor depan? Apa
dia yang membuat Alin bersikeras membantu penjaga perpustakaan mengantarkan
buku ke kelas atas? Apa dia ‘Malaikat Bermata Coklat’ di puisi Alin? Apa dia
‘Muse’ di lukisan barunya? Dan masih ada banyak ‘Apa’ lagi untuknya. Ahh,
sudahlah toh aku sudah kalah.
Dan kamu ‘Senior bermata coklat’ terima kasih karena
telah mengubah Alin. Terima kasih telah menjadi tujuan baru hidupnya, jaga
gadisku dan bahagiakan ia. Dan untuk Alin, gadisku. Jangan berubah lagi,
tetaplah jadi Alin yang baik hati dan berjiwa besar. Jangan nakal atau pun
sedih lagi, jangan buat aku menyesal telah melepaskan mu. Bahagia selalu gadis
cantik ku.
Dari aku yang selalu mengamati mu dari sisi ini.
***