Saturday, May 28, 2016

(Masih) Drama

Kepada si Pemeran Utama
Dulu saya pernah katakan kamu adalah pemain yang handal. Kamu satu-satunya yang membuat saya kembali ke panggung yang saya tinggalkan di tengah-tengah pertunjukan. Kamu dengan mudahnya menyeret saya dan kembali berperan sebagai pangeran sempurna. Kali ini tanpa paksaan saya pun mainkan peran sebagai putri yang mempesona. Kita sihir semua mata hingga tak mampu mengabaikan pertunjukan kita.  Kamu tunjukan bagaimana kamu yang tak pernah lupa menyapa dan menanyakan bagaimana hari saya, bagaimana kamu tersenyum maklum saat tingkah saya mulai menyebalkan, bagaimana kamu terlihat begitu pengertian saat  saya mulai kekanak-kanakan, dan bagaimana kamu bersikap tenang saat saya mulai mendramatisir masalah sepele.
Saya menikmati peran baru saya sebagai putri yang kamu puja sampai-sampai saya lupa kalau kita hanya bermain drama. Saya terus menari mengikuti musik pengiring yang merdu, lupa kalau di balik nada-nada indah itu ada banyak sumbang yang dibuang saat proses pembuatannya. Saya terus berlari mengelilingi panggung, lupa kalau ada penata cahaya yang kerepotan mengimbangi langkah saya.  Saya lupa kalau memerankan orang lain itu ternyata tak mudah. Hingga kita sampai di titik dimana saya benar-benar merasa saya satu-satunya bagimu, saya ratu di dunia yang kamu ciptakan. Sedangkan kamu sampai di titik tertinggi dalam hal kelelahan, terlebih lagi dalam mengerti saya. Bahkan semesta pun rasanya mulai muak dengan tingkah saya. Sampai-sampai diajaknya waktu untuk menjebak saya hingga saya selalu terjepit di saat yang salah.
Setelah tumpukan maaf dan banyak janji yang saya nyanyikan nyatanya tak sedikit pun merubah tingkah saya. Saya tanpa sadar terus-terusan menguji kesabaranmu. Hingga akhirnya semesta dan waktu menjalankan rencana besarnya. Dibutakannya saya dengan kabut ego dan dengan angkuh saya berlari menjauh, walau dalam hati harap-harap cemas takut kamu tak lagi mau mengejar. Dan saya benar. kamu sudah lama kelelahan. Kamu sudah lama tak lagi mau berlari untuk saya, tak mau lagi berusaha menggapai dan terlalu bosan merasa diabaikan. Dan saat saya sadar jarak yang terbentang sudah terlalu jauh. Semesta membalikan keadaan. Semesta biarkan saya rasakan bagaimana sakitnya di abaikan dan bagaimana sulitnya menggapai.
Dalam sunyi saya kebingungan mencari cara untuk kembali sebelum peran saya di gantikan putri lain. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, kamu adalah pemain handal. Tentu tak berat bagimu untuk menemukan ‘saya’ yang lain. Yang tak hanya mau dimengerti tapi juga mau mengerti, yang tak bermain-main dengan kesabaranmu apalagi mengebaikan perhatianmu. Ketakutan saya makin mendera saat saya sadar kalau selama ini kesalahan ada di diri saya.
Dengan ringkih saya mendekat ke panggung kita (dulu). Lalu bertanya masihkah saya bisa bermain lagi bersamamu. Tapi dengan senyum yang entah apa artinya kamu katakan tak ada tempat lagi untuk saya, dua pertunjukan saya kamu nilai cukup. Kamu katakan tak ada lagi kesempatan dan dengan senyum getir saya melangkah menjauh, pergi dari panggung megah itu yang berarti juga menghilang dari hidupmu.
Mungkin kalau semesta dan waktu membuatmu tanpa sengaja membaca tulisan ini kamu akan muak dengan tingkah kekanak-kanakan saya. Mungkin juga kamu mengejelek kebodohan saya, atau kamu menjadi jumawa karena ternyata di sini ada seorang gadis yang tak mampu membunuh bayangmu. Mungkin juga kamu bertanya-tanya mengapa saya menulis kata-kata tak berguna ini? Sungguh ini bukan untuk menarik simpatimu, ini hanya kumpulan kata yang tak mampu saya ungkapkan. Hanya bentuk introspeksi terhadap pribadi saya sendiri. Dan maaf jika lagi-lagi membuatmu risih, kamu tentu tahu saya benar-benar lemah dalam hal mengerti kamu.
Sekarang kita sudah kembali ke panggung kita masing-masing. Menjalankan peran masing-masing dan melanjutkan kisah masing-masing. Tak ada lagi saya yang tersipu malu saat kamu goda atau kamu yang merengek saat saya abaikan. Tapi percayalah hidup saya tak lagi seperti dulu. Saya bukan lagi seseorang yang dulu saya ingat. Banyak hal yang berubah saat saya didekatmu dan sulit bagi saya untuk kembali menjadi saya yang dulu. Terlebih menjadi saya yang tanpa kamu.
Tapi beginilah jalan yang semesta rencanakan untuk kita. Baik buruknya tetap juga harus diterima. Di berinya saya waktu untuk merangkai bintang dan menyusun tangga yang akan menuntun saya ke bintang-bintang yang saya impikan. Sedangkan kamu sudah lebih dulu mengepakan sayap demi memeluk bintang yang kamu inginkan. Walau saya tak lagi bisa jadi penyemangat dari kepakan sayapmu tapi saya yakin doa saya masih mampu menjangkau kamu yang di pisahkan jarak. Dan walau doa saya tak semustajab pinta ibumu tapi  saya harap tiap sujud saya akan mempermudah jalanmu.
Terakhir dari saya, untuk seseorang yang bayangnya tak mampu saya bunuh. Sadarlah rasa untukmu masih terus tumbuh.


 

Falinov Random Story Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review