Dulu saya pernah
katakan kamu adalah pemain yang handal. Kamu satu-satunya yang membuat saya
kembali ke panggung yang saya tinggalkan di tengah-tengah pertunjukan. Kamu
dengan mudahnya menyeret saya dan kembali berperan sebagai pangeran sempurna. Kali
ini tanpa paksaan saya pun mainkan peran sebagai putri yang mempesona. Kita
sihir semua mata hingga tak mampu mengabaikan pertunjukan kita. Kamu tunjukan bagaimana kamu yang tak pernah
lupa menyapa dan menanyakan bagaimana hari saya, bagaimana kamu tersenyum
maklum saat tingkah saya mulai menyebalkan, bagaimana kamu terlihat begitu
pengertian saat saya mulai
kekanak-kanakan, dan bagaimana kamu bersikap tenang saat saya mulai mendramatisir
masalah sepele.
Saya menikmati
peran baru saya sebagai putri yang kamu puja sampai-sampai saya lupa kalau kita
hanya bermain drama. Saya terus menari mengikuti musik pengiring yang merdu,
lupa kalau di balik nada-nada indah itu ada banyak sumbang yang dibuang saat
proses pembuatannya. Saya terus berlari mengelilingi panggung, lupa kalau ada
penata cahaya yang kerepotan mengimbangi langkah saya. Saya lupa kalau memerankan orang lain itu
ternyata tak mudah. Hingga kita sampai di titik dimana saya benar-benar merasa
saya satu-satunya bagimu, saya ratu di dunia yang kamu ciptakan. Sedangkan kamu
sampai di titik tertinggi dalam hal kelelahan, terlebih lagi dalam mengerti saya. Bahkan semesta pun rasanya mulai muak dengan tingkah saya. Sampai-sampai
diajaknya waktu untuk menjebak saya hingga saya selalu terjepit di saat yang
salah.
Setelah tumpukan
maaf dan banyak janji yang saya nyanyikan nyatanya tak sedikit pun merubah
tingkah saya. Saya tanpa sadar terus-terusan menguji kesabaranmu. Hingga akhirnya
semesta dan waktu menjalankan rencana besarnya. Dibutakannya saya dengan kabut
ego dan dengan angkuh saya berlari menjauh, walau dalam hati harap-harap cemas
takut kamu tak lagi mau mengejar. Dan saya benar. kamu sudah lama kelelahan.
Kamu sudah lama tak lagi mau berlari untuk saya, tak mau lagi berusaha
menggapai dan terlalu bosan merasa diabaikan. Dan saat saya sadar jarak yang
terbentang sudah terlalu jauh. Semesta membalikan keadaan. Semesta biarkan saya
rasakan bagaimana sakitnya di abaikan dan bagaimana sulitnya menggapai.
Dalam sunyi saya
kebingungan mencari cara untuk kembali sebelum peran saya di gantikan putri lain.
Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, kamu adalah pemain handal. Tentu tak
berat bagimu untuk menemukan ‘saya’ yang lain. Yang tak hanya mau dimengerti
tapi juga mau mengerti, yang tak bermain-main dengan kesabaranmu apalagi
mengebaikan perhatianmu. Ketakutan saya makin mendera saat saya sadar kalau
selama ini kesalahan ada di diri saya.
Dengan ringkih
saya mendekat ke panggung kita (dulu). Lalu bertanya masihkah saya bisa bermain
lagi bersamamu. Tapi dengan senyum yang entah apa artinya kamu katakan tak ada
tempat lagi untuk saya, dua pertunjukan saya kamu nilai cukup. Kamu katakan tak
ada lagi kesempatan dan dengan senyum getir saya melangkah menjauh, pergi dari
panggung megah itu yang berarti juga menghilang dari hidupmu.
Mungkin kalau
semesta dan waktu membuatmu tanpa sengaja membaca tulisan ini kamu akan muak dengan
tingkah kekanak-kanakan saya. Mungkin juga kamu mengejelek kebodohan saya, atau
kamu menjadi jumawa karena ternyata di sini ada seorang gadis yang tak mampu
membunuh bayangmu. Mungkin juga kamu bertanya-tanya mengapa saya menulis
kata-kata tak berguna ini? Sungguh ini bukan untuk menarik simpatimu, ini hanya
kumpulan kata yang tak mampu saya ungkapkan. Hanya bentuk introspeksi terhadap
pribadi saya sendiri. Dan maaf jika lagi-lagi membuatmu risih, kamu tentu tahu
saya benar-benar lemah dalam hal mengerti kamu.
Sekarang kita
sudah kembali ke panggung kita masing-masing. Menjalankan peran masing-masing
dan melanjutkan kisah masing-masing. Tak ada lagi saya yang tersipu malu saat
kamu goda atau kamu yang merengek saat saya abaikan. Tapi percayalah hidup saya
tak lagi seperti dulu. Saya bukan lagi seseorang yang dulu saya ingat. Banyak hal
yang berubah saat saya didekatmu dan sulit bagi saya untuk kembali menjadi saya
yang dulu. Terlebih menjadi saya yang tanpa kamu.
Tapi beginilah
jalan yang semesta rencanakan untuk kita. Baik buruknya tetap juga harus
diterima. Di berinya saya waktu untuk merangkai bintang dan menyusun tangga
yang akan menuntun saya ke bintang-bintang yang saya impikan. Sedangkan kamu
sudah lebih dulu mengepakan sayap demi memeluk bintang yang kamu inginkan.
Walau saya tak lagi bisa jadi penyemangat dari kepakan sayapmu tapi saya yakin
doa saya masih mampu menjangkau kamu yang di pisahkan jarak. Dan walau doa saya
tak semustajab pinta ibumu tapi saya
harap tiap sujud saya akan mempermudah jalanmu.
Terakhir dari
saya, untuk seseorang yang bayangnya tak mampu saya bunuh. Sadarlah rasa untukmu masih terus tumbuh.