Kepada si Pemeran Utama
Kali ini saya tak akan mengumbar
rasa atau sibuk mengingat tentang 'kita'. Kali ini saya hanya ingin untuk
terakhir kalinya, tolong mengerti posisi saya. Saya tak akan meminta kamu
menerima saya untuk bermain kembali berperan bersama atau pun mengulang cerita
kita lagi. Seperti yang kamu bilang, semua sudah lebih dari cukup. Kita sudah
saling memberi kesempatan sebelum akhirnya saling menyerah. Kisah kita tak
lebih dari sebait lagu lama, yang walau nikmat di telinga tetap saja tak sesuai
jika didengar terlalu lama. Apa yang letaknya di belakang memang tak boleh
mengacaukan masa depan kita bukan?
Kali ini saja, untuk kali
terakhir saya minta kamu untuk mengerti. Saya berjanji tak akan mengacaukanmu,
membuatmu terganggu atau apalah. Tapi tolong biarkan semua berjalan begini
adanya. Tak perlu juga kamu singgung saya yang tak mau menatapmu atau
berhubungan lagi dengan segala sesuatu tentangmu. Karena bagi saya luka yang
pernah ada tak mampu hanya di sembuhkan waktu. Luka itu butuh jarak untuk tak
bertemu dan saling sapa dulu sampai akhirnya hadir keikhlasan untuk benar-benar
merelakan dan kembali menjalani hidup walau di bayangi kenangan.
Sejujurnya saya ingin menulis
selamat tinggal di akhir tulisan ini, tapi rasanya tak perlu juga. Toh tanpa
kata perpisahan pun kisah ini telah lama usai. Walau rasanya semesta pun masih
inginkan ada lanjutan dari 'saya' dan 'kamu'. Tapi seperti yang saya bilang,
biarkan semua berjalan apa adanya. Tapi untuk sekarang biarkan saya hilang
dulu, setidaknya dari hidupmu. Karena terus-terusan hidup di dekat bayangmu itu
membuat hati saya meragu.
Dari yang (ingin) meninggalkan bayangmu.