"Berhenti Eva!! Kau sudah berjanji gelas tadi akan menjadi gelas terakhirmu malam ini."
Eva memutar bola matanya jengah, entah sudah berapa belas kali gadis itu memutar bola matanya malam ini. "Well, apa kau percaya janji Frey? Maksudku apa itu janji? Sesuatu yang sengaja di buat untuk sengaja pula diingkari?"
Aku mendenguskan nafas, lalu memilih untuk mengetuk-ngetuk meja marmer di hadapanku dan membiarkan Eva merancau sesuka hatinya.
"Eva, jangan gila," aku spontan meneriakinya saat jemari lentiknya memanggil bartender dan memesan satu botol vodka, lagi. "Kau bisa mabuk Eva, aku tak bisa mengantarmu pulang. Aku ada penerbangan sebelum tengah malam."
"Umm, baiklah. Jika kau tak bisa mengantarku, mungkin Reyhan bisa."
"Eva apa kau gila? Kau ada disini karena Reyhan pergi meninggalkanmu. Dia sudah pergi bodoh, hubungan kalian sudah berakhir."
Aku terengah-engah setelah mengucapkan kalimat tadi, sedangkan sosok Eva mendadak beku.
"Kau benar, aku memang gadis gila, juga bodoh. Bahkan sampai detik ini aku tak percaya Reyhan bisa mengucapkan kata-kata sejahat itu padaku. Menganggap tak ada apa-apa diantara kami katanya?Maksudku, hey bahkan si Pamela yang genit dan dibencinya setengah mati itu masih mendapat pelukan hangatnya tadi pagi. Sedangkan aku? Gadis yang dijanjikannya keabadian malah dibohongi habis-habisan. Kau lihat sendirikan Frey, aku tadi seperti gadis dungu yang tidak tahu bahwa kekasihnya akan melanjutkan study ke luar negri."
Eva menelungkupkan wajahnya ke atas meja marmer dihadapan kami, punggungnya bergetar dan isak tangisnya terdengar jelas. Ini bukan pertama kalinya aku melihat pemandangan serupa. Drama Reyhan dan Eva di mulai jauh sebelum kami sama-sama menggunakan jas putih dan menyandang gelar dokter di depan nama kami dan selama itu pula aku menjadi ibu peri yang ikut menangis dan tertawa bersama Eva.
"Hey, Eva. Lihat aku, ayo hapus air matamu sini," ujarku menarik punggung Eva agar berdiri berhadapan denganku. "Kau harus dengar kata-kataku. Aku tak akan mengucapkannya dua kali. Kau tahu Reyhan itu memang bangsat, lelaki terjahat dan terbodoh yang pernah ku kenal. Satu-satunya lelaki yang menyia-nyiakan seorang Eva yang selalu ada untuknya. Dan kau tahu apa yang paling ku benci? Aku benci saat kau terus menangisi si bodoh itu. Jadi hapuslah air matamu dan berbahagialah tanpa Reyhan."
Eva tertegun mendengar kalimatku barusan. Dengan cepat ia memelukku dan mengucapkan terima kasih di sela-sela rambutku.
"Kau benar Frey, tak seharusnya aku menangisi lelaki bajingan itu. Tak apa jika dia memang mau pergi, toh aku masih memiliki Papa, Mama dan yang pasti kamu. Terima kasih Frey."
Sedangkan dibalik punggungnya air mataku menetes. Di sana, beberapa meter di hadapan ku, di antara sudut bar yang gelap. Berdiri seorang Reyhan dengan jaket lusuh pemberianku sebagai hadiah ulang tahun ke 20 nya. Seseorang yang akan pergi bersamaku menuju benua biru. Mantan kekasih, ah bukan ia masih kekasih sahabatku. Si bajingan yang namanya terukir pada cincin perak di jari manis tangan kiriku, tunanganku.