Aku mengambil sebuah kotak susu di lemari pendingin
lalu menuju sebuah bangku panjang setelah membayarnya. Kamu datang dengan
langkah pasti, tapi kebingungan saat memilih biskuit-biskuit di hadapanmu. Aku
tertawa geli menanggapi kicauan temanku dan kamu tersentak lalu dengan asal
mengambil beberapa bungkus biskuit. Mataku mengikuti langkahmu yang memasuki
kantin sempit itu. Lalu dengan cepat menunduk seolah-olah mengamati kotak susu
tadi saat kamu keluar. Aku tahu kamu menatapku untuk beberapa detik sebelum
akhirnya berlalu. Kupandangi punggungmu yang menjauh. Baru beberapa langkah,
kamu menoleh. Aku kembali mengumbar tawa yang dibuat-buat mengikuti
teman-temanku yang tertawa riang. Kamu makin menjauh, hingga akhirnya
menghilang di balik bangunan sekolah.
Aku tertawa sendu. Kita selalu saja disergap hening
saat berjumpa, seolah lupa akan semua cerita. Ah, hatiku kembali terasa asing.
Ada tempat yang sebelumnya kamu isi dan sekarang kosong, menyisakan ruang hampa
yang membuatku selalu merasa ada yang kurang. Ada rindu yang menjerit memanggil
namamu dan aku pun tahu ada rindu yang terpancar dari tatap matamu. Seolah ada
gumpalan sesak di tenggorokan, kata rindu itu tak pernah mampu terucap. Entah
itu aku atau pun kamu, kita memilih untuk merindu dalam diam. Bukannya
membohongi diri sendiri atau apalah, tapi perjanjian tak tertulis untuk tak
lagi berdrama itu memang sudah ada sejak kita tak lagi searah. Toh kita sudah
memilih untuk sama-sama belajar dewasa.
Hari itu mungkin bukan hanya kebetulan semata tapi
ujian dari semesta. Ia menantang hati kita yang biasanya goyah saat kita
berjumpa. Menantang hatiku yang selalu luluh akan senyummu juga dirimu yang tak
pernah tahan dengan mata berkaca-kaca andalan ku. Atau juga ini hadiah dari
sang semesta untuk rindu yang selalu sabar menunggu, imbalan atas setiap doa
yang mengharapkan kebaikanmu atau siksaan atas ketidak mampuanku melupakanmu.
Ah, bahkan kalau dipertemukan denganmu adalah
siksaan untukku pun, aku akan tetap memilih untuk 'tak sengaja' berjumpa
denganmu. Alasannya satu, kasihan rindu. Rindu inginkan kamu.
Dan mungkin juga aku.