Thursday, August 25, 2016

Sempurna


Cinta adalah saat kita saling melepaskan karena sadar tak akan pernah bahagia jika memaksakan bersama
"Dara."
Tubuh Dara membeku mendengar gumaman di sebelahnya. Pendengarannya tak mungkin salah, itu tadi suara Mario.
"Hei Kak Mario, apa kabar?"
Apa kabar? Apa kabar? Pertanyaan itu terdengar berulang kali di kepalanya. Dara, gadis yang beberapa tahun lalu ia sayangi sepenuh hati sekaligus gadis yang ia sakiti begitu dalam sedang berdiri di sampingnya. Dan baru saja bertanya, apa kabar?


"Baik, Dara apa kabar?"
"Baik juga."
"Mau pulang ke Bengkulu? Kenapa gak pake pesawat?"
"Mau mampir dulu, liburan sama Gea."
"Masih akrab sama Gea?"
"Masih."
"Masih mau jadi ibu psikolog?"
"Jadi ibu dosen psikologi lebih tepatnya. Tahun depan lanjut S2 ke sosial."
"Gak jadi ke klinis? Kenapa?"
"Gapapa, pengen aja."
"Bukan karena gak jadi sama om-om perwira?"
"Ahahaha, salah satunya iya. Jadi gak harus cari kerjaan yang bisa pindah kapan pun."
"Terus sama siapa sekarang?"
"Sama mas-mas pilot."
"Dara bahagia?"
"Kak, keretaku udah sampai. Duluan ya."
Mario mengangguk pelan sebelum melepaskan punggung Dara yang menjauh.
"Dara!!"
Dara terperangah mendapati Mario yang sekarang memegang tangannya erat.
"Dara bahagia?"
"Kapan pernah Dara gak bahagia?"
"Waktu kakak pergi," jawab Mario pelan.
Dara tertawa kecil, beberapa tahun lalu ia hanya bisa memberenggut dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan karena malu mendengar jawaban Mario. Tapi itu dulu, beberapa tahun lalu.
"Waktu kakak pergi kebahagiaan Dara berubah, bukan di kakak lagi."
Mata Mario menyipit, gadis ini masih sama keras kepalanya seperti terakhir mereka bertemu.
"Lalu sekarang Dara bahagia?"
"Dara harus pergi sekarang," ujar Dara melepaskan genggaman tangan Mario dan naik ke gerbong.
"Dara, apa Dara bahagia?"
"Ya, Dara bahagia."
Pintu gerbong menutup dan membawa sosok Dara menjauh dari Mario. Bagi Mario pertemuannya dengan Dara barusan bagaikan mimpi, terlalu cepat. Dan sekarang waktu kembali membawa Dara berlalu. Gadis yang masih dan akan selalu disayanginya. Juga gadis yang tak pernah ia pikirkan cara menyakitinya.

***

Tubuh Dara melorot tepat saat pintu di hadapannya tertutup. Tubuhnya gemetar menahan tumpukan emosi yang menjalar akibat pertemuannya dengan Mario barusan.
"Tapi gak sempurna. Kebahagiaan Dara gak pernah lagi sempurna."
Mario, yang menyempurnakan kebahagiaannya. Sekaligus yang mematahkannya sampai ke butiran zarah terakhir.

***
Dengan berada disamping mu, aku sempurna. Tapi dengan menjauh dariku kamu bias mencari kesempurnaan yang kamu inginkan. Dan aku memilih membiarkan mu sempurna – Dara Pradaya
Dengan mu aku merasa tergenapkan, tapi tak pernah jadi sempurna. Tapi saat tidak denganmu sebagian dari diriku hilang dan mustahil bagiku untuk sempurna – Mario Satria



 

Falinov Random Story Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review