Cinta adalah saat kita saling melepaskan karena sadar tak
akan pernah bahagia jika memaksakan bersama
"Dara."
…
Tubuh
Dara membeku mendengar gumaman di sebelahnya. Pendengarannya tak mungkin salah,
itu tadi suara Mario.
…
"Hei
Kak Mario, apa kabar?"
…
Apa
kabar? Apa kabar? Pertanyaan itu terdengar berulang kali di kepalanya. Dara,
gadis yang beberapa tahun lalu ia sayangi sepenuh hati sekaligus gadis yang ia
sakiti begitu dalam sedang berdiri di sampingnya. Dan baru saja bertanya, apa
kabar?
…
"Baik,
Dara apa kabar?"
"Baik
juga."
"Mau
pulang ke Bengkulu? Kenapa gak pake pesawat?"
"Mau
mampir dulu, liburan sama Gea."
"Masih
akrab sama Gea?"
"Masih."
"Masih
mau jadi ibu psikolog?"
"Jadi
ibu dosen psikologi lebih tepatnya. Tahun depan lanjut S2 ke sosial."
"Gak
jadi ke klinis? Kenapa?"
"Gapapa,
pengen aja."
"Bukan
karena gak jadi sama om-om perwira?"
"Ahahaha,
salah satunya iya. Jadi gak harus cari kerjaan yang bisa pindah kapan
pun."
"Terus
sama siapa sekarang?"
"Sama
mas-mas pilot."
"Dara
bahagia?"
"Kak,
keretaku udah sampai. Duluan ya."
Mario
mengangguk pelan sebelum melepaskan punggung Dara yang menjauh.
…
"Dara!!"
Dara
terperangah mendapati Mario yang sekarang memegang tangannya erat.
"Dara
bahagia?"
"Kapan
pernah Dara gak bahagia?"
"Waktu
kakak pergi," jawab Mario pelan.
Dara
tertawa kecil, beberapa tahun lalu ia hanya bisa memberenggut dan menutupi
wajahnya dengan telapak tangan karena malu mendengar jawaban Mario. Tapi itu
dulu, beberapa tahun lalu.
"Waktu
kakak pergi kebahagiaan Dara berubah, bukan di kakak lagi."
Mata
Mario menyipit, gadis ini masih sama keras kepalanya seperti terakhir mereka
bertemu.
"Lalu
sekarang Dara bahagia?"
"Dara
harus pergi sekarang," ujar Dara melepaskan genggaman tangan Mario dan
naik ke gerbong.
"Dara,
apa Dara bahagia?"
"Ya,
Dara bahagia."
Pintu
gerbong menutup dan membawa sosok Dara menjauh dari Mario. Bagi Mario
pertemuannya dengan Dara barusan bagaikan mimpi, terlalu cepat. Dan sekarang
waktu kembali membawa Dara berlalu. Gadis yang masih dan akan selalu
disayanginya. Juga gadis yang tak pernah ia pikirkan cara menyakitinya.
***
Tubuh
Dara melorot tepat saat pintu di hadapannya tertutup. Tubuhnya gemetar menahan
tumpukan emosi yang menjalar akibat pertemuannya dengan Mario barusan.
"Tapi
gak sempurna. Kebahagiaan Dara gak pernah lagi sempurna."
Mario,
yang menyempurnakan kebahagiaannya. Sekaligus yang mematahkannya sampai ke
butiran zarah terakhir.
***
Dengan
berada disamping mu, aku sempurna. Tapi dengan menjauh dariku kamu bias mencari
kesempurnaan yang kamu inginkan. Dan aku memilih membiarkan mu sempurna – Dara
Pradaya
Dengan
mu aku merasa tergenapkan, tapi tak pernah jadi sempurna. Tapi saat tidak
denganmu sebagian dari diriku hilang dan mustahil bagiku untuk sempurna – Mario
Satria