Hallo
tuan yang selalu mengawali pagiku dengan sapaan yang manis! Maaf karena tak
pernah ada ‘selamat pagi’ yang mampir duluan ke handphonemu, tapi aku yakin
walau tak pernah terdengar tapi setiap bisikan di sujud sepertiga malamku pasti
bisa kau rasakan. Maaf juga untuk setiap senyuman tipis yang aku suguhkan
setiap paginya, aku hanya tak yakin mampu menyembunyikan gugup saat senyumku
mengembang.
Hallo
tuan yang suara tawanya selalu menangkan! Maaf untuk setiap kata rindu yang tak
terbalaskan, percayalah selalu ada air mata yang coba kutahan dengan tawa. Maaf untuk
setiap kata cinta yang seolah kuabaikan, semata-mata hanya karena aku takut tak
akan mau melepaskan.
Hallo
tuan yang setiap pesannya selalu kurindukan! Maaf untuk setiap pesan singkat
yang balasannya tak seperti yang kamu bayangkan, saat berbalas pesan denganmu
otakku selalu saja beku. Maaf untuk setiap percakapan yang tak selalu
menyenangkan, hanya saja tiap menatapmu lidahku tiba-tiba keluh
.
Hallo
tuan yang bayangnya mengisi setiap sudut kosong dihati dan pikiranku! Maaf untuk
setiap kata maaf yang tak pernah aku sampaikan. Bagiku rasa itu lebih dari cukup,
tapi kamu butuh kata. Untukku ada itu berarti cinta, bagimu perhatian itu
bentuk nyata. Aku tak butuh yang sempurna, kamu saja cukup. Kamu sudah
menemukan yang menggenapkan, aku. Tapi yang kamu cari adalah kesempurnaan. Kamu butuh
kata cinta saat aku terlalu takut untuk sekedar menyapa. Kamu butuh tindakan
untuk setiap kata sayang, saat aku bahkan tak mampu mengatur hatiku sendiri.
Bukan
salahmu dan sepertinya bukan salahku, tapi tetap saja maaf.
Hallo tuan
pencari kesempurnaan, bahagialah!
Dari aku yang (dulu) kamu sempurnkan, aku rindu menjadi
utuh.