Saturday, August 27, 2016

Di Sebuah Senja (Untuk Seseorang Di Surga)

Aku kembali mendengus malas. Sekarang sudah pukul 15.00, lewat satu jam dari bel pulang sekolah dan aku masih duduk di sebuah bangku semen yang menghadap ke lapangan basket. Menunggu dia yang masih asik mendrible bola dan memasukannya ke ring.
            Aku selalu suka saat ia bermain basket. Rambutnya yang diterpa angin, matanya yang menajam, kaki dan tangannya yang bergerak lincah dan terakhir tubuhnya yang bagai melayang saat memasukan bola ke ring. Ahh, aku satu juta persen jatuh cinta padanya. Dia separuh surga yang tuhan kirimkan pada ku. Dia dunia ku, my soul.
            “Sayang mau ikut? Kamu pasti bosankan cuma jadi penonton?” tanyanya setengah berteriak dari tengah lapangan.
            “Kamu ngeledekin aku, soul?” balasku memasang wajah cemberut.
            Ia tertawa dari tengah lapangan, kembali mendrible bola dan mendekati ku beberapa detik kemudian.
            “Kamu cantik kalau lagi cemberut gitu,” ujarnya mencubit pipi kananku.

            “Kamu jelek,” balasku singkat.
            Dia kembali tertawa sebelum mengacak rambut sebahuku. Ya tuhan, apa dosa ku sampai-sampai begitu menyayangi pria idiot ini?
            “Kenapa gak pernah mau kalau diajakin basketan, hmm? Padahalkan kamu pacaran sama mantan kapten basket?” tanyanya menyebalkan.
            Aku bungkam, tak mau menjawab. Dia bodoh, dia tau aku tak pernah suka olahraga. Satu-satunya olahraga yang aku bisa hanya lari, tanpa teknik, tanpa takut salah memegang bola atau kurang power saat melakukan gerakan tertentu. Hanya lari, melawan angin dan melihat siapa yang jadi pemenang. Ku putuskan aku hanya suka lari, titik. Tak bisa di ganggu gugat.
            “Hei kenapa diam begitu sih sweety?” tanyanya kembali mencubit pipiku.
            Aku pun kembali cemberut, aku tak suka di panggil‘sweety. Aku tak suka hanya di anggap manis, aku mau di panggil cantik.Ayolah, jangan melihat ku dengan tatapan aneh itu. Aku seorang gadis remaja berumur 15 tahun dan sejak kecil tak ada yang menganggap ku cantik. Aku hanya manis, titik. Mutlak. Tapi saat pertama kali kami mengobrol dia bilang aku cantik, aku tersanjung, dan ku putuskan bahwa aku lebih suka di anggap cantik. Juga menyukai dia yang menyebut ku cantik.
            “Hei, sweety kamu capek ya? Atau lapar? Mau aku beliin makanan?”
            Aku menoleh ke arahnya. Raut wajahnya tampak cemas, dia selalu begitu saat aku marah atau ngambek. Dia akan merayu dan membujuk ku agar aku memaafkannya dan dia selalu berhasil.
            “Ya aku mau makan kwetiau sambil minum jus alpukat. Lalu pergi ke toko buku dan cari novel baru, kemudian pulang dan istirahat.” Jawabku manja.
            Ia tersenyum maklum. Ia tahu gadisnya ini lahir dan dibesarkan sebagai anak perempuan satu-satunya dan itu mutlak membuat ku menjadi seorang putri yang biasa di turuti semua titahnya.
            “Bagaimana kalau setelah makan kwetiau dan ke toko buku kita kembali ke sekolah atau pergi ke bukit untuk melihat sunset?” tanyanya memberi penawaran.
            Aku mengibaskan tangan tak perduli. Aku tak mau lagi-lagi harus melihat sunset. Aku tak suka sunset. Sunset itu matahari yang terbenam, terbenam itu mati, mati itu berpisah, perpisahan itu meninggalkan luka, dan luka membuat mu menangis. Aku seorang putri cantik, putri di larang menangis. Jadiku putuskan bahwa aku tak suka sunset. Sunrise jauh lebih baik. Karena terbit berarti harapan baru. Itu juga salah satu alasan ku suka Jepang, negara matahari terbit.
            “Sweety kamu maukan?” tanyanya masih mencoba membujuk ku.
            Aku menggeleng. Aku sudah muak melihat sunset selama hampir dua tahun kami berpacaran. Ya, dia memang jatuh cinta pada sunset layaknya jatuh cinta pada basket, tak pernah terlupakan satu hari pun. Ia juga tak pernah menerima pemikiranku tentang sunset, ia terlalu di butakan akan cintanya.
            Tak hanya di bukit atau lapangan sekolah. Ia sudah melihat sunset dari berbagai tempat. Atap gedung, balkon, pantai, gunung, lembah dan tempat-tempat lain yang di abadikannya dalam bentuk lukisan yang menempel di dinding kamarnya. Bahkan dia pernah berjanji akan melamar calon istrinya saat sunset, dan ku pastikan gadis itu bukan aku. Karena aku akan menolaknya. Karena untuk terakhir kalinya, aku tak suka sunset, titik.
            “Sweety, ayolah kali ini saja. Tak selamanya kita bisa melihat sunset berdua cantik ku,” ujarnya kembali merayu ku.
            Aku masih menggeleng. Tak selamanya? Ku rasa walau beberapa bulan lagi ia lulus pun dia masih akan menculik ku untuk melihat sunset. Dulu bahkan dia sering menculik ku dari tempat bimbel saat kelas 9 hanya untuk menemaninya menonton sunset. Kelulusan tak akan menghalangi kamu soul, aku tahu itu.
            “Sweety aku mohon, huuu,” ujarnya menggenggam punggung tanganku dengan tatapan berbinar ala kucing minta di pungut.
            Aku mengangguk.
            Dia memekik riang sebelum mengecup dahiku.
            “Aku janji setelah ini kita tak akan sering-sering melihat sunset,” bisiknya mesra.
            Aku kembali mengangguk dan tersenyum lebar. Kemudian menggandeng lengannya menuju gerbang. Ahh, aku sudah lapar.
***
            “Lihat sweety sunset indah bukan? Sunset itu lukisan tuhan di kanvas yang besar,” ujarnya menunjuk matahari yang tinggal seperempat.
            Aku hanya diam, memejamkan mata dan meresapi suaranya.Suara barito yang membuat ku jatuh cinta sejak pertama mendengarnya.
            “Sweety, kamu sayang aku kan?”
            Aku membuka mata dan memandang wajahnya yang tepat berada di sampingku. Ya, aku sayang kamu Soul. Semua yang melekat di diri kamu. Bola mata coklat yang tajam itu, hidung mancung yang di pahat sempurna, rahang tegas, senyum hangat mu, bahu bidang yang selalu jadi tempat ku melarikan segala resah, lengan yang ku harap terus menggandengku, dan kaki jenjang yang akan menuntunku ke masa depan. Aku mencintai kamu, sepenuh hati soul.
            “Suatu hari aku kamu akan tahu seberapa sayangnya aku kekamu Soul.”
            “Kapan?” tanyanya dengan gerakan memiringkan kepala yang menggemaskan.
            Sedangkan wajah ku memerah mengingat kejutan yang akan aku berikan padanya untuk hari ke 500 kami jadian.
            “Suatu hari Sooouuullll.”
            “Kenapa harus tunda-tunda sih Sweety?” tanyanya yang menatap lurus ke arah matahari. “Waktu itu kejam Sweet, dia bisa bergerak secepat kilat dan kalau sudah saatnya tanpa kita sadar waktu sudah mengakhiri segalanya dan kita nggak punya satu detik pun yang tersisa, walau cuma untuk kata selamat tinggal.” Lanjutnya beralih menatap mata ku.
            Aku terdiam. Terhenyak. Aku tak begitu paham akan apa yang dia bicarakan. Apa dia masih mau melanjutkan rencananya untuk kuliah diluar kota dan menentang Bundanya? Dia putra pertama di keluarganya, kesayangan Bundanya, kebanggaan Ayahnya, dia pangeran di rumahnya. Dan Bunda pasti jugaakan kebingungan saat mendengar ucapannya tadi.
            “Soul ayo pulang. Mama bisa marah kalau kamu terus mengajak anak gadisnya pulang magrib,” ujar ku setelah bungkam beberapa menit.
            “Kamu mengerti tapi pura-pura nggak tau apa-apa,pura-pura bodoh. Kamu naif  sweet, dan itu satu-satunya hal yang menahan aku untuk pergi. Cowok lain pasti gemes pengen bikin cewek kaya kamu patah hati.”
            Aku mendengarnya. Semua kata-kata aneh yang ia ucapkan tadi, tak hanya tadi tapi juga beberapa hari ini. Dan jujur semuanya membuat ku takut. Ia berkata seolah-olah akan pergi dan meninggalkan ku. Dan aku tak pernah siap untuk itu.
***
            Hari ini tak seperti biasanya. Ia tak datang ke kelasku dan mengajak ku pulang bersama. Dia bilang, dia harus menyelesaikan sebuah tugas kelompok. Bagi ku tak apa, toh nanti saat dia sudah selesai dengan tugasnya dia akan datang ke rumah dan mengobrol sampai lupa waktu, persis seperti biasanya.
            “Sayang, bisa kamu antarkan kue ini ke Bunda?” tanya Mama yang muncul dari dapur dengan sebuah kotak persegi di tangan kanan.
            Hmm, baiklah rencana bisa saja berubah bukan?
            Aku mengangguk cepat sebelum mengambil kotak tadi.
            “Pelan – pelan bawanya, jangan sampai rusak.” Ujar Mama mengingatkan ku. “Baik-baik juga di rumah mertua,” lanjut Mama bergurau.
            Aku hanya tertawa kecil mendengarnya. Saat kami jadian Bunda dan Mama adalah orang yang paling bahagia selain kami berdua. Mereka sahabat yang tumbuh bersama dan menghabiskan masa SMP sampai tamat SMA berdua sampai akhirnya berpisah saat kuliah dan kembali bertemu saat Soul meminta Bunda menemui Mama yang saat itu melarang aku pacaran. Siapa sangka setelah bertemu Bunda prinsip keras Mama dan Papa yang melarang putri mereka berpacaran langsung luluh dalam hitungan detik. Dan mulai saat itu dia resmi menjadi matahariku, tempat duniaku berputar mengelilinginya
***
            Pukul 20.00. Tak ada dia yang datang kerumah ku dan mengajak ku melihat sunset, tak ada aku yang duduk di ruang tamunya dan mengobrol bersama Bunda, dan tak akan ada lagi dia. Dia sudah pergi menuju keabadian. Berjalan bersama waktu yang kejam, pergi secepat kilat tanpa meninggalkan satu detik pun untuk kata perpisahan.
            Aku selalu suka berlari melawan angin, begitu juga dia.Tapi aku tak pernah suka saat ia menggas motornya dan menantang maut. Maut benci orang sombong dan orang sombong akan jadi orang pertama yang mati. Dan dia yang duluan mati.
            Dia kecelakaan bersama motor besarnya di sebuah tikungan tajam menuju bukit. Aku juga selalu takut saat melewati jalan itu bersamanya. Dan setelah hari ini aku yakin jalan itu akan menjadi lebih menakutkan, setidaknya untuk ku.
            Semua orang menangis. Bunda, Ayah, adiknya, Mama, Papa, bahkan adikku. Semuanya kehilangan, semuanya berduka. Tapi kita tak tahu siapa yang paling merasa terluka, siapa yang paling merasa ingin ikut mati saja saat mendengar berita tadi. Mungkin jawabannya aku. Ya, aku.
            Aku sama sekali tak menangis atau berteriak. Aku hanya diam seperti biasanya tapi tak ada satu orang pun yang mampu menengok ke dalam hatiku. Ahh, mungkin sekarang hatiku pun sudah hancur. Mungkin sekarang aku sudah menjadi makhluk mengerikan tanpa hati. Ahh, sudahlah ada atau tak ada hati pun dia sudah tak ada. Lalu kepada siapa juga akan ku berikan hati ini?
            Sebuah benda mengkilap ku letakan di atas pergelangan tangan kiri. Menimbang-nimbang waktu yang tepat untuk mengguratkannya di tangan. Aku tak lagi takut akan darah atau rasa sakit luar biasa saat benda ini nanti menyentuh kulitku. Yang aku takutkan hanya besok saat aku bangun di pagi hari aku akan sadar dia tak ada, dan sebelum itu terjadi akan ku akhiri semua.
            Satu… Dua… Tiga… Ya aku merasakannya. Benda tadi menyentuh sesuatu di tangan kiri ku. Entahlah kurasa itu urat nadi, goresan ku sedikit terseok tadi, mungkin terkena urat lain yang aku tak tahu apa. Aku melihat sekilas darah yang memercik seperti air mancur. Bau amis mulai hinggap di indra penciuman ku. Dan tiba-tiba sesuatu berdenging di telingaku sebelum semuanya menjadi gelap.
***
            Aku gagal bunuh diri, dan rasanya seperti seorang zombie. Kalau di pikir-pikir dia mungkin orang teregois di dunia. Dia yang pergi takmembawa sedikit pun luka, tak merasa kehilangan, tak hidup penuh rasa bersalah karena belum sempat meminta maaf. Dia egois, titik.
            Soul mau kah kamu kembali? Aku janji aku akan setia menemani mu menonton sunset, lalu kita akan bermetafora tentang kanvas besar tuhan dan sebagainya, aku juga akan menerima lamaran mu walau di tengah sunset sekalipun. Aku akan mencoba mencintai basket, kalau kamu mau. Aku tak akan protes saat di panggil ‘sweety’. Aku tak akan selalu manja seperti seorang putri, aku tak akan jadi gadis naif lagi. Soul ayo bangunlah, satu kali saja.
            Tapi nyatanya ia tetap diam. Perlahan lubang di tutup ,tanah menimbun sosoknya dalam-dalam. Maut menyaksikannya dan tersenyum puas. Maut kembali menjadi pemenang. Dan aku kembali melirik pergelangan tanganku yang di perban. Kenapa maut tak mengambil ku sekalian? Apa maut tahu bahwa tetap hidup saat dia meninggal adalah hal paling mengerikan untuk ku? Apa maut sekejam itu? Bunda dan Mama memeluk ku erat. Mungkin mereka takut aku akan mencoba bunuh diri lagi. Ahh sudahlah, toh maut nyatanya lebih suka menyiksaku.           
            Aku kembali mengalihkan pandangan ke gundukan tanah. Dia berada di sana. Mulai hari ini dan selamanya tidak akan ada lagi yang membuatku menunggu di bangku semen yang menghadap ke lapangan basket, tidak akan adalagi yang memanggil ku ‘sweety’ atau menyebut ku cantik, tidak akan ada yang mengajak ku berlari menyusuri bukit dan melawan angin, tidak akan ada sosok yang seolah melayang saat bermain basket, tidak akan ada yang mengajak ku bolos untuk melihat sunset. Semuanya terlanjur menjadi masa lalu.
            Tenanglah di sana soul. Meski nanti tangisku mungkin akan sering terdengar oleh mu tapi yakinlah doaku pun tak akan ada putusnya untukmu. Dan jika mungkin di masa depan aku menemukan bahu lain untuk tempat kumelepaskan resah, atau lengan lain untuk ku gandeng juga kaki lain yang akan membawa ku ke masa depan. Percayalah bahwa itu hanya caraku melanjutkan hidup, bukan untuk menggantikan apa lagi melupakan mu. Kamu masih hidup di hatiku dan akan terus begitu sampai maut berhenti menyiksa ku.
            Di tulis saat langit berwarna keemasan, di samping sebuah nisan bertuliskan namamu, Senja.
           
 

Falinov Random Story Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review