Aku kembali mendengus malas. Sekarang sudah pukul 15.00, lewat satu
jam dari bel pulang sekolah dan aku masih duduk di sebuah bangku semen
yang menghadap ke lapangan basket. Menunggu dia yang masih asik
mendrible bola dan memasukannya ke ring.
Aku selalu
suka saat ia bermain basket. Rambutnya yang diterpa angin, matanya yang
menajam, kaki dan tangannya yang bergerak lincah dan terakhir tubuhnya
yang bagai melayang saat memasukan bola ke ring. Ahh, aku satu juta
persen jatuh cinta padanya. Dia separuh surga yang tuhan kirimkan pada
ku. Dia dunia ku, my soul.
“Sayang mau ikut? Kamu pasti bosankan cuma jadi penonton?” tanyanya setengah berteriak dari tengah lapangan.
“Kamu ngeledekin aku, soul?” balasku memasang wajah cemberut.
Ia tertawa dari tengah lapangan, kembali mendrible bola dan mendekati ku beberapa detik kemudian.
“Kamu cantik kalau lagi cemberut gitu,” ujarnya mencubit pipi kananku.
“Kamu jelek,” balasku singkat.
Dia kembali tertawa sebelum mengacak rambut sebahuku. Ya tuhan, apa dosa
ku sampai-sampai begitu menyayangi pria idiot ini?
“Kenapa gak pernah mau kalau diajakin basketan, hmm? Padahalkan kamu
pacaran sama mantan kapten basket?” tanyanya menyebalkan.
Aku bungkam, tak mau menjawab. Dia bodoh, dia tau aku tak pernah suka
olahraga. Satu-satunya olahraga yang aku bisa hanya lari, tanpa teknik,
tanpa takut salah memegang bola atau kurang power saat melakukan gerakan
tertentu. Hanya lari, melawan angin dan melihat siapa yang jadi
pemenang. Ku putuskan aku hanya suka lari, titik. Tak bisa di ganggu
gugat.
“Hei kenapa diam begitu sih sweety?” tanyanya kembali mencubit pipiku.
Aku pun kembali cemberut, aku tak suka di panggil‘sweety. Aku tak suka
hanya di anggap manis, aku mau di panggil cantik.Ayolah, jangan melihat
ku dengan tatapan aneh itu. Aku seorang gadis remaja berumur 15 tahun
dan sejak kecil tak ada yang menganggap ku cantik. Aku hanya manis,
titik. Mutlak. Tapi saat pertama kali kami mengobrol dia bilang
aku cantik, aku tersanjung, dan ku putuskan bahwa aku lebih suka di
anggap cantik. Juga menyukai dia yang menyebut ku cantik.
“Hei, sweety kamu capek ya? Atau lapar? Mau aku beliin makanan?”
Aku menoleh ke arahnya. Raut wajahnya tampak cemas, dia selalu begitu
saat aku marah atau ngambek. Dia akan merayu dan membujuk ku agar aku
memaafkannya dan dia selalu berhasil.
“Ya aku mau
makan kwetiau sambil minum jus alpukat. Lalu pergi ke toko buku dan cari
novel baru, kemudian pulang dan istirahat.” Jawabku manja.
Ia tersenyum maklum. Ia tahu gadisnya ini lahir dan dibesarkan sebagai
anak perempuan satu-satunya dan itu mutlak membuat ku menjadi seorang
putri yang biasa di turuti semua titahnya.
“Bagaimana
kalau setelah makan kwetiau dan ke toko buku kita kembali ke sekolah atau
pergi ke bukit untuk melihat sunset?” tanyanya memberi penawaran.
Aku mengibaskan tangan tak perduli. Aku tak mau lagi-lagi harus melihat
sunset. Aku tak suka sunset. Sunset itu matahari yang terbenam, terbenam
itu mati, mati itu berpisah, perpisahan itu meninggalkan luka, dan luka
membuat mu menangis. Aku seorang putri cantik, putri di larang menangis.
Jadiku putuskan bahwa aku tak suka sunset. Sunrise jauh lebih baik.
Karena terbit berarti harapan baru. Itu juga salah satu alasan ku suka
Jepang, negara matahari terbit.
“Sweety kamu maukan?” tanyanya masih mencoba membujuk ku.
Aku menggeleng. Aku sudah muak melihat sunset selama hampir dua tahun
kami berpacaran. Ya, dia memang jatuh cinta pada sunset layaknya jatuh
cinta pada basket, tak pernah terlupakan satu hari pun. Ia juga tak
pernah menerima pemikiranku tentang sunset, ia terlalu di butakan
akan cintanya.
Tak hanya di bukit atau lapangan
sekolah. Ia sudah melihat sunset dari berbagai tempat. Atap gedung,
balkon, pantai, gunung, lembah dan tempat-tempat lain yang di abadikannya
dalam bentuk lukisan yang menempel di dinding kamarnya. Bahkan dia
pernah berjanji akan melamar calon istrinya saat sunset, dan ku pastikan
gadis itu bukan aku. Karena aku akan menolaknya. Karena untuk terakhir
kalinya, aku tak suka sunset, titik.
“Sweety, ayolah kali ini saja. Tak selamanya kita bisa melihat sunset berdua cantik ku,” ujarnya kembali merayu ku.
Aku masih menggeleng. Tak selamanya? Ku rasa walau beberapa bulan lagi
ia lulus pun dia masih akan menculik ku untuk melihat sunset. Dulu bahkan
dia sering menculik ku dari tempat bimbel saat kelas 9 hanya untuk
menemaninya menonton sunset. Kelulusan tak akan menghalangi kamu soul,
aku tahu itu.
“Sweety aku mohon, huuu,” ujarnya menggenggam punggung tanganku dengan tatapan berbinar ala kucing minta di pungut.
Aku mengangguk.
Dia memekik riang sebelum mengecup dahiku.
“Aku janji setelah ini kita tak akan sering-sering melihat sunset,” bisiknya mesra.
Aku kembali mengangguk dan tersenyum lebar. Kemudian menggandeng lengannya menuju gerbang. Ahh, aku sudah lapar.
***
“Lihat sweety sunset indah bukan? Sunset itu lukisan tuhan di kanvas
yang besar,” ujarnya menunjuk matahari yang tinggal seperempat.
Aku hanya diam, memejamkan mata dan meresapi suaranya.Suara barito
yang membuat ku jatuh cinta sejak pertama mendengarnya.
“Sweety, kamu sayang aku kan?”
Aku membuka mata dan memandang wajahnya yang tepat berada di sampingku.
Ya, aku sayang kamu Soul. Semua yang melekat di diri kamu. Bola mata
coklat yang tajam itu, hidung mancung yang di pahat sempurna, rahang
tegas, senyum hangat mu, bahu bidang yang selalu jadi tempat ku melarikan
segala resah, lengan yang ku harap terus menggandengku, dan kaki jenjang
yang akan menuntunku ke masa depan. Aku mencintai kamu, sepenuh hati
soul.
“Suatu hari aku kamu akan tahu seberapa sayangnya aku kekamu Soul.”
“Kapan?” tanyanya dengan gerakan memiringkan kepala yang menggemaskan.
Sedangkan wajah ku memerah mengingat kejutan yang akan aku berikan padanya untuk hari ke 500 kami jadian.
“Suatu hari Sooouuullll.”
“Kenapa harus tunda-tunda sih Sweety?” tanyanya yang menatap lurus ke
arah matahari. “Waktu itu kejam Sweet, dia bisa bergerak secepat kilat
dan kalau sudah saatnya tanpa kita sadar waktu sudah mengakhiri segalanya
dan kita nggak punya satu detik pun yang tersisa, walau cuma untuk kata
selamat tinggal.” Lanjutnya beralih menatap mata ku.
Aku terdiam. Terhenyak. Aku tak begitu paham akan apa yang dia bicarakan.
Apa dia masih mau melanjutkan rencananya untuk kuliah diluar kota dan
menentang Bundanya? Dia putra pertama di keluarganya,
kesayangan Bundanya, kebanggaan Ayahnya, dia pangeran di rumahnya. Dan
Bunda pasti jugaakan kebingungan saat mendengar ucapannya tadi.
“Soul ayo pulang. Mama bisa marah kalau kamu terus mengajak anak
gadisnya pulang magrib,” ujar ku setelah bungkam beberapa menit.
“Kamu mengerti tapi pura-pura nggak tau apa-apa,pura-pura bodoh. Kamu
naif sweet, dan itu satu-satunya hal yang menahan aku untuk pergi. Cowok
lain pasti gemes pengen bikin cewek kaya kamu patah hati.”
Aku mendengarnya. Semua kata-kata aneh yang ia ucapkan tadi, tak hanya
tadi tapi juga beberapa hari ini. Dan jujur semuanya membuat ku takut. Ia
berkata seolah-olah akan pergi dan meninggalkan ku. Dan aku tak pernah
siap untuk itu.
***
Hari ini tak seperti
biasanya. Ia tak datang ke kelasku dan mengajak ku pulang bersama. Dia
bilang, dia harus menyelesaikan sebuah tugas kelompok. Bagi ku tak apa,
toh nanti saat dia sudah selesai dengan tugasnya dia akan datang ke rumah
dan mengobrol sampai lupa waktu, persis seperti biasanya.
“Sayang, bisa kamu antarkan kue ini ke Bunda?” tanya Mama yang muncul
dari dapur dengan sebuah kotak persegi di tangan kanan.
Hmm, baiklah rencana bisa saja berubah bukan?
Aku mengangguk cepat sebelum mengambil kotak tadi.
“Pelan – pelan bawanya, jangan sampai rusak.” Ujar Mama mengingatkan ku.
“Baik-baik juga di rumah mertua,” lanjut Mama bergurau.
Aku hanya tertawa kecil mendengarnya. Saat kami jadian Bunda dan Mama
adalah orang yang paling bahagia selain kami berdua. Mereka sahabat yang
tumbuh bersama dan menghabiskan masa SMP sampai tamat SMA berdua
sampai akhirnya berpisah saat kuliah dan kembali bertemu saat Soul
meminta Bunda menemui Mama yang saat itu melarang aku pacaran. Siapa
sangka setelah bertemu Bunda prinsip keras Mama dan Papa yang melarang
putri mereka berpacaran langsung luluh dalam hitungan detik. Dan mulai
saat itu dia resmi menjadi matahariku, tempat duniaku berputar
mengelilinginya
***
Pukul 20.00. Tak ada dia
yang datang kerumah ku dan mengajak ku melihat sunset, tak ada aku yang
duduk di ruang tamunya dan mengobrol bersama Bunda, dan tak akan ada lagi
dia. Dia sudah pergi menuju keabadian. Berjalan bersama waktu yang
kejam, pergi secepat kilat tanpa meninggalkan satu detik pun untuk kata
perpisahan.
Aku selalu suka berlari melawan angin,
begitu juga dia.Tapi aku tak pernah suka saat ia menggas motornya dan
menantang maut. Maut benci orang sombong dan orang sombong akan jadi
orang pertama yang mati. Dan dia yang duluan mati.
Dia
kecelakaan bersama motor besarnya di sebuah tikungan tajam menuju bukit.
Aku juga selalu takut saat melewati jalan itu bersamanya. Dan setelah
hari ini aku yakin jalan itu akan menjadi lebih menakutkan, setidaknya
untuk ku.
Semua orang menangis. Bunda, Ayah, adiknya,
Mama, Papa, bahkan adikku. Semuanya kehilangan, semuanya berduka. Tapi
kita tak tahu siapa yang paling merasa terluka, siapa yang paling merasa
ingin ikut mati saja saat mendengar berita tadi. Mungkin jawabannya aku.
Ya, aku.
Aku sama sekali tak menangis atau berteriak.
Aku hanya diam seperti biasanya tapi tak ada satu orang pun yang mampu
menengok ke dalam hatiku. Ahh, mungkin sekarang hatiku pun sudah hancur.
Mungkin sekarang aku sudah menjadi makhluk mengerikan tanpa hati. Ahh,
sudahlah ada atau tak ada hati pun dia sudah tak ada. Lalu kepada siapa
juga akan ku berikan hati ini?
Sebuah benda mengkilap
ku letakan di atas pergelangan tangan kiri. Menimbang-nimbang waktu yang
tepat untuk mengguratkannya di tangan. Aku tak lagi takut akan darah
atau rasa sakit luar biasa saat benda ini nanti menyentuh kulitku. Yang
aku takutkan hanya besok saat aku bangun di pagi hari aku akan sadar dia
tak ada, dan sebelum itu terjadi akan ku akhiri semua.
Satu… Dua… Tiga… Ya aku merasakannya. Benda tadi menyentuh sesuatu di
tangan kiri ku. Entahlah kurasa itu urat nadi, goresan ku sedikit terseok
tadi, mungkin terkena urat lain yang aku tak tahu apa. Aku melihat
sekilas darah yang memercik seperti air mancur. Bau amis mulai hinggap di
indra penciuman ku. Dan tiba-tiba sesuatu berdenging di telingaku
sebelum semuanya menjadi gelap.
***
Aku gagal
bunuh diri, dan rasanya seperti seorang zombie. Kalau di pikir-pikir dia
mungkin orang teregois di dunia. Dia yang pergi takmembawa sedikit pun
luka, tak merasa kehilangan, tak hidup penuh rasa bersalah karena belum
sempat meminta maaf. Dia egois, titik.
Soul mau kah
kamu kembali? Aku janji aku akan setia menemani mu menonton sunset, lalu
kita akan bermetafora tentang kanvas besar tuhan dan sebagainya, aku juga
akan menerima lamaran mu walau di tengah sunset sekalipun. Aku akan
mencoba mencintai basket, kalau kamu mau. Aku tak akan protes saat di
panggil ‘sweety’. Aku tak akan selalu manja seperti seorang putri,
aku tak akan jadi gadis naif lagi. Soul ayo bangunlah, satu kali saja.
Tapi nyatanya ia tetap diam. Perlahan lubang di tutup ,tanah menimbun
sosoknya dalam-dalam. Maut menyaksikannya dan tersenyum puas. Maut
kembali menjadi pemenang. Dan aku kembali melirik pergelangan
tanganku yang di perban. Kenapa maut tak mengambil ku sekalian? Apa maut
tahu bahwa tetap hidup saat dia meninggal adalah hal paling mengerikan
untuk ku? Apa maut sekejam itu? Bunda dan Mama memeluk ku erat. Mungkin
mereka takut aku akan mencoba bunuh diri lagi. Ahh sudahlah, toh maut
nyatanya lebih suka menyiksaku.
Aku
kembali mengalihkan pandangan ke gundukan tanah. Dia berada di sana.
Mulai hari ini dan selamanya tidak akan ada lagi yang membuatku menunggu
di bangku semen yang menghadap ke lapangan basket, tidak akan adalagi
yang memanggil ku ‘sweety’ atau menyebut ku cantik, tidak akan ada
yang mengajak ku berlari menyusuri bukit dan melawan angin, tidak akan
ada sosok yang seolah melayang saat bermain basket, tidak akan ada yang
mengajak ku bolos untuk melihat sunset. Semuanya terlanjur menjadi masa
lalu.
Tenanglah di sana soul. Meski nanti tangisku
mungkin akan sering terdengar oleh mu tapi yakinlah doaku pun tak akan
ada putusnya untukmu. Dan jika mungkin di masa depan aku menemukan bahu
lain untuk tempat kumelepaskan resah, atau lengan lain untuk ku gandeng
juga kaki lain yang akan membawa ku ke masa depan. Percayalah bahwa itu
hanya caraku melanjutkan hidup, bukan untuk menggantikan apa lagi
melupakan mu. Kamu masih hidup di hatiku dan akan terus begitu sampai
maut berhenti menyiksa ku.
Di tulis saat langit berwarna keemasan, di samping sebuah nisan bertuliskan namamu, Senja.