Sayang sekarang September sudah
hampir habis. Hujan turun makin deras dari hari ke hari. Jalan selalu tergenang
air dan jendela rumahku menjadi buram.
Sayang aku sudah siapkan segelas
teh hangat dan bolu kukus untuk kamu santap saat kamu datang. Aku sudah
mengganti kaos dan celana pendekku dengan dress selutut berwarna merah mudah.
Aku sudah melepaskan kuncirku dan menyisir rambutku sedemikan rupa hingga
tampak bergelombang.
Sayang hujan mulai reda. Sudah
pulangkah kamu? Atau masih menunggu hingga langit benar-benar cerah?
Sayang teh hangatmu sudah ku
ganti dengan yang baru. Jam dindingku sudah menunjukkan pukul tujuh, lupakah
kamu dengan janjimu? Sayang kenapa belum juga datang? Bukannya kamu mau
merayakan ulang tahun ke 20 ku malam ini? Tak jadikah kamu rayakan ulang tahun
sahabatmu ini?
***
Sayang pacarmu baru saja
menelponku dengan tangis yang tertahan. Separuh diriku melayang karena berpikir
kalian sudah bubaran. Tapi aku kembali dijatuhkan saat ia bilang kamu tak akan
datang. Sayang dia bohong bukan? Dia hanya sedang cemburu seperti biasanyakan?
Sayang jawab.
***
Sayang tubuhku membeku saat
melihat selimut itu menutupi seluruh tubuhmu. Sayang orang-orang ini bilang
kamu sudah pergi. Mereka bilang kamu tak akan pernah datang.
Pacarmu memeluk erat tubuhmu
yang kaku. Air matanya membasahi wajahmu yang seputih salju. Bibirnya tanpa
henti memanggil namamu untuk memintamu kembali.
Sayang kalau aku yang minta, mau
kah kamu pulang?
Sayang jawab.
***
Sayang mereka menimbun tubuhmu
dengan tanah liat yang kekuning-kuningan. Pacarmu kembali pingsan untuk ketiga
kalinya. Mama dan Papa mu memeluknya berulang kali, berkata kamu sudah ditempat
yang seharusnya dan kali ini aku rasa mereka benar.
Aku menggenggam erat setangkai
mawar yang seharusnya kemarin menjadi kado ulang tahun ke 20 ku. Aku tak pernah
suka bunga sayang, tapi aku selalu terima apa yang kamu hadiahkan.
Huh, sudah berapa lamakah kita
bersama sayang? Satu dua atau lebih dari yang bisa kita hitung dengan jarikah?
Tapi kamu masih saja lupa kalau aku tak pernah suka bunga. Ah, memangnya aku
siapa? Selain orang yang sangat mencintaimu, aku hanya sahabatmu sejak
kanak-kanak. Aku hanya seorang gadis yang menjadi temanmu berlatih sepeda,
temanmu belajar mendirikan tenda, temanmu berlari di padang rumput, temanmu
berbagi cerita patah hati dan tempatmu menitipkan rahasia-rahasia gelapmu.
Sayang, aku selalu lupa bilang
kalau aku sayang.
Sayang, sahabatku sayang.
Aku sayang kamu, sayang.
Dari setiap kata sayang yang tak mampu
ku ucap.
Untuk kamu, sayang.