Tuesday, September 20, 2016

Hei Kamu!!


Hei kamu yang sedang duduk di meja seberang, sudikah kamu membagi satu tawa lagi? Iya, tawa yang membuat matamu jadi menyipit dan mengantuk di mataku hilang.

Hei kamu yang sedang menggaduk es teh manis dengan sedotan, sukakah kamu dengan es saat hujan atau hari ini hanya sebuah kebetulan?

Hei kamu yang menyampirkan almamater kuning di bahu, bisakah kamu berhenti memandang ke arahku? Biarkan aku dulu yang mengagumi parasmu. Mataku tak mampu melawan tatapan tajammu.


Hei kamu yang baru saja bangkit dari bangku kantin, kemana saja selama ini bangunan sekolah menyembunyikanmu? Aku yang terlalu tak peduli atau memang kamu pandai bersembunyi?

Hei kamu yang sedang melangkah menjauh, adakah semesta tuliskan kita untuk saling sapa? Untuk satu sama lain mengenalkan nama? Atau sekedar saling pandang hingga tak lagi jadi anak sekolah?

Hei kamu yang bayangnya sedang tertelan bangunan sekolah, terima kasih untuk melukis senyum tipis yang sebabkan getar halus di dada.

Hei kamu, aku sampai lupa habiskan makananku. Sampai lupa akan hujan yang (mungkin) sudah lama reda.

Hei kamu yang sekarang selalu aku tunggu melintas di depan kelas, tak sadar kah ada sepasang mata yang mengikuti langkahmu?

Hei kamu yang april lalu bertemu denganku di bawah rinai hujan.

Ah, begini rasanya. Mengagumi lagi, senyum-senyum sendiri lagi, rasakan getar ini lagi. Sekarang mataku tak pernah mengantuk lagi karena nanti setelah bel istirahat berbunyi aku akan kembali bertemu denganmu di ruang warna-warni yang diciptakan imajinasi.

Berbekal semangkuk bakso dan segelas es jeruk nipis, aku bisa memandangimu.

Sepuasku.

Seperti hari itu.

Suatu hari di bulan April, saat hujan menyirami bumi dan kamu menyirami hati yang sedang tandus-tandusnya.

Hei kamu, hujan di bulan april.

Sejatinya air.

 

Falinov Random Story Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review