Hei kamu
yang sedang duduk di meja seberang, sudikah kamu membagi satu tawa lagi? Iya,
tawa yang membuat matamu jadi menyipit dan mengantuk di mataku hilang.
Hei kamu
yang sedang menggaduk es teh manis dengan sedotan, sukakah kamu dengan es saat
hujan atau hari ini hanya sebuah kebetulan?
Hei kamu
yang menyampirkan almamater kuning di bahu, bisakah kamu berhenti memandang ke
arahku? Biarkan aku dulu yang mengagumi parasmu. Mataku tak mampu melawan
tatapan tajammu.
Hei kamu
yang baru saja bangkit dari bangku kantin, kemana saja selama ini bangunan
sekolah menyembunyikanmu? Aku yang terlalu tak peduli atau memang kamu pandai
bersembunyi?
Hei kamu
yang sedang melangkah menjauh, adakah semesta tuliskan kita untuk saling sapa?
Untuk satu sama lain mengenalkan nama? Atau sekedar saling pandang hingga tak
lagi jadi anak sekolah?
Hei kamu
yang bayangnya sedang tertelan bangunan sekolah, terima kasih untuk melukis
senyum tipis yang sebabkan getar halus di dada.
Hei kamu,
aku sampai lupa habiskan makananku. Sampai lupa akan hujan yang (mungkin) sudah
lama reda.
Hei kamu
yang sekarang selalu aku tunggu melintas di depan kelas, tak sadar kah ada
sepasang mata yang mengikuti langkahmu?
Hei kamu
yang april lalu bertemu denganku di bawah rinai hujan.
Ah, begini
rasanya. Mengagumi lagi, senyum-senyum sendiri lagi, rasakan getar ini lagi. Sekarang
mataku tak pernah mengantuk lagi karena nanti setelah bel istirahat berbunyi
aku akan kembali bertemu denganmu di ruang warna-warni yang diciptakan
imajinasi.
Berbekal
semangkuk bakso dan segelas es jeruk nipis, aku bisa memandangimu.
Sepuasku.
Seperti
hari itu.
Suatu hari
di bulan April, saat hujan menyirami bumi dan kamu menyirami hati yang sedang
tandus-tandusnya.
Hei kamu,
hujan di bulan april.
Sejatinya
air.